Metapos.id, Jakarta – Lembaga kajian Evident Institute mengungkap adanya indikasi bahwa lonjakan percakapan mengenai isu “Agustus Kelabu” di media sosial dalam sepekan terakhir tidak terjadi secara alami. Berdasarkan hasil pemantauan, penyebaran isu tersebut diduga diperkuat secara terkoordinasi untuk membangun kepanikan sekaligus memancing emosi publik.
Direktur Komunitas Evident Institute, Algooth Putranto, mengatakan temuan tersebut diperoleh melalui analisis menggunakan mesin pemantauan Reportica terhadap percakapan publik selama periode 29 Juli hingga 5 Agustus 2026. Dalam rentang waktu tersebut, tercatat 154 percakapan yang menghasilkan sekitar 1,4 juta interaksi, namun seluruh aktivitas itu hanya berasal dari 130 akun.
“Jangkauan 1,4 juta interaksi yang dihasilkan dari jumlah akun yang relatif kecil ini patut dicermati. Ini bukan pola perbincangan publik yang tumbuh organik, melainkan ada indikasi amplifikasi yang terkoordinasi,” ujar Algooth.
Ia menjelaskan, pola peningkatan percakapan juga menunjukkan tren yang tidak lazim. Pada 31 Juli hanya terdapat dua percakapan, kemudian meningkat menjadi 33 percakapan pada 1 Agustus dan melonjak hingga 56 percakapan pada 2 Agustus 2026. Setelah itu, jumlahnya turun menjadi 48 percakapan pada 3 Agustus dan kembali menyusut menjadi 15 percakapan pada 4 Agustus.
“Lonjakan dari dua percakapan menjadi 56 percakapan hanya dalam tiga hari bukan pertumbuhan yang alami. Ada sesuatu yang mendorong isu ini naik secara serentak dalam waktu sangat singkat,” kata Algooth.
Hasil pemantauan juga menunjukkan bahwa platform X menjadi media yang paling banyak memperbincangkan isu tersebut dengan 78 percakapan, disusul media daring sebanyak 58 percakapan. Mayoritas percakapan bernada negatif, mencapai 64,3 persen. Emosi yang paling dominan adalah amarah sebesar 18,1 persen, diikuti rasa takut sebesar 16,1 persen. Sementara itu, frasa “gas air mata” menjadi istilah yang paling sering muncul dalam 67 percakapan dengan dominasi sentimen negatif sebesar 76,1 persen. Tagar #AgustusKelabu tercatat muncul dalam 55 percakapan.
Menurut Evident Institute, ramainya isu tersebut tidak dapat dipisahkan dari meningkatnya penyebaran konten disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK) dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan data Reportica, jumlah konten DFK pada Januari hingga Maret 2026 masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, sejak April 2026 grafiknya meningkat tajam dan terus bertambah hingga Juli 2026 dengan jumlah mendekati 300 konten.
“Bukan kebetulan isu ini menyebar begitu cepat dan didominasi emosi marah serta takut. Ruang digital kita sudah dipanaskan oleh konten disinformasi, fitnah, dan kebencian yang terus meningkat sejak April. Ketika suasananya sudah keruh, isu sensitif apa pun akan lebih mudah digoreng dan lebih cepat viral,” ujar Algooth.
Ia menilai pihak yang paling dirugikan dari kondisi tersebut adalah masyarakat karena aspirasi yang muncul secara murni berpotensi dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan lain.
“Yang paling dirugikan sebenarnya adalah masyarakat sendiri. Aspirasi yang murni jadi ditunggangi. Karena itu kami mengajak publik untuk lebih jeli, jangan mudah terpancing konten yang sengaja dirancang untuk membuat panik,” katanya.
Evident Institute juga berpandangan bahwa keterbukaan informasi serta upaya pemerintah dalam membangun komunikasi dengan masyarakat menjadi faktor penting untuk meredam dampak manipulasi informasi di ruang digital.
“Situasi seperti ini hanya bisa dijawab dengan informasi yang jernih, cepat, dan konsisten. Kami melihat komitmen pemerintah ke arah itu, dan kami berharap semua pihak ikut menjaga ruang digital agar tidak dibajak oleh kepentingan yang ingin memperkeruh suasana,” tutup Algooth.







