Metapos.id, Jakarta – Reza Pahlavi, putra terakhir Shah Iran yang hidup di pengasingan, kembali menjadi sorotan setelah muncul spekulasi mengenai peluangnya memimpin transisi politik di Iran. Namun, Amerika Serikat dikabarkan tidak memberikan dukungan resmi terhadap wacana tersebut.
Reza Pahlavi selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh oposisi paling menonjol terhadap pemerintahan Republik Islam Iran. Meski memiliki pendukung di kalangan diaspora Iran, upayanya memimpin perubahan politik dinilai masih menghadapi banyak hambatan.
Laporan Reuters menyebutkan bahwa pemerintahan Amerika Serikat, termasuk Presiden Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance, memilih menjaga jarak dan tidak secara terbuka mendukung Reza Pahlavi sebagai calon pemimpin baru Iran.
Sikap tersebut didasarkan pada penilaian bahwa Reza Pahlavi belum memiliki dukungan organisasi yang kuat di dalam negeri maupun kemampuan menyatukan kelompok-kelompok oposisi yang selama ini terpecah.
Meski demikian, Reza Pahlavi menegaskan perjuangannya bukan untuk mengembalikan sistem monarki. Ia menyatakan tujuan utamanya adalah membantu masyarakat Iran menuju sistem yang demokratis melalui proses politik yang dipilih rakyat.
Dalam sejumlah kesempatan, Reza Pahlavi juga membantah menerima pendanaan dari pemerintah asing. Ia mengeklaim hanya berupaya menjadi jembatan bagi transisi politik dan pembentukan pemerintahan yang lebih demokratis di Iran.
Di sisi lain, sebagian kalangan oposisi masih mempertanyakan kepemimpinan Reza Pahlavi karena dianggap belum mampu membangun koalisi yang solid. Kondisi tersebut membuat peluangnya memimpin perubahan politik di Iran semakin kompleks.
Hingga kini, belum ada sinyal bahwa Amerika Serikat akan memberikan dukungan politik secara resmi kepada Reza Pahlavi. Situasi tersebut menunjukkan bahwa masa depan kepemimpinan Iran masih dipenuhi ketidakpastian di tengah dinamika politik yang terus berkembang.







