Metapos.id, Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan pagu indikatif anggaran sekitar Rp270 triliun untuk tahun 2027 masih berada dalam tahap pembahasan. Lembaga tersebut terus meninjau kebutuhan anggaran agar pelaksanaan program berjalan lebih efektif dan sesuai sasaran.
Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, menjelaskan angka itu berasal dari perencanaan awal pemerintah. Penyusunan anggaran dilakukan berdasarkan acuan dari Kementerian Keuangan dan Bappenas.
Dalam skema awal, pemerintah mengalokasikan anggaran tersebut untuk menjangkau sekitar 81,5 juta penerima manfaat pada 2027.
Meski demikian, BGN saat ini kembali menghitung kebutuhan penerima program. Langkah itu dilakukan agar intervensi gizi menghasilkan dampak yang lebih optimal.
Sepanjang sisa tahun 2026, BGN akan memperkuat tata kelola program. Selain itu, lembaga tersebut juga menyiapkan penyesuaian terhadap kelompok penerima bantuan.
BGN turut mengakomodasi masukan dari berbagai pihak dalam proses evaluasi. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan dan sejumlah pakar memberikan pertimbangan untuk penyempurnaan kebijakan.
Salah satu skenario yang sedang dikaji ialah mempersempit cakupan penerima manfaat. Dengan langkah tersebut, bantuan diharapkan lebih terfokus pada kelompok yang benar-benar membutuhkan.
Dalam kajian sementara, pelajar SMA dari keluarga dengan kondisi ekonomi mampu berpotensi tidak lagi masuk ke dalam kelompok penerima program.
Apabila skema tersebut diterapkan, jumlah penerima diperkirakan dapat berkurang hingga sekitar 8 juta orang. Namun, BGN belum menetapkan besaran efisiensi anggaran yang mungkin diperoleh.
Saat ini, pembahasan mengenai angka final masih berlangsung bersama Kementerian Keuangan dan Bappenas.
BGN menekankan bahwa proses evaluasi tidak semata berorientasi pada penghematan anggaran. Sebaliknya, lembaga tersebut ingin memastikan target perbaikan gizi nasional tetap tercapai melalui penyaluran manfaat yang lebih tepat.







