Metapos.id, Jakarta – Film horor masih menjadi salah satu genre paling dominan di industri perfilman Indonesia. Setiap tahunnya, film bertema horor terus menarik jutaan penonton dan bersaing di jajaran film terlaris.
Kesuksesan film seperti KKN di Desa Penari dan Agak Laen membuktikan minat masyarakat terhadap genre ini masih sangat tinggi. Budaya mistis yang lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia menjadi salah satu faktor utama popularitas film horor.
Sejak dahulu, masyarakat Indonesia memang akrab dengan cerita-cerita seram. Kisah horor hadir melalui cerita lisan, komik, hingga berkembang di media sosial dan internet.
Kedekatan dengan budaya lokal membuat film horor terasa lebih relate bagi penonton. Unsur supernatural yang diangkat dalam film juga sering kali berasal dari kepercayaan yang sudah dikenal masyarakat.
Perkembangan perfilman horor Indonesia kini juga semakin kreatif. Banyak sineas mulai menghadirkan konsep baru dan tidak hanya berfokus pada cerita kutukan tradisional semata.
Selain itu, film horor dianggap mampu membangkitkan adrenalin penonton lewat suasana menegangkan dan penuh kejutan. Alur cerita yang sederhana juga membuat genre ini mudah dinikmati berbagai kalangan.
Film Vina: Sebelum 7 Hari misalnya, sempat menarik perhatian publik karena mengangkat kasus yang pernah ramai dibahas masyarakat. Hal tersebut membuat penonton merasa lebih terhubung dengan cerita yang disajikan.
Menurut pandangan filsuf Aristotle, kisah horor dapat menghadirkan pelepasan emosi atau catharsis bagi manusia. Sensasi takut dan tegang justru menjadi hiburan tersendiri bagi sebagian orang.
Di sisi lain, pasar film horor di Indonesia juga sangat besar dan menguntungkan. Dengan biaya produksi yang relatif lebih rendah, genre horor mampu menghasilkan keuntungan tinggi dibanding beberapa genre lainnya.







