Metapos.id, Jakarta – Sejumlah elite Partai NasDem melontarkan kritik tajam terhadap sampul Majalah Tempo yang menampilkan Ketua Umum mereka, Surya Paloh. Sampul tersebut dikaitkan dengan isu rencana penggabungan NasDem dengan Partai Gerindra yang dipimpin Prabowo Subianto.
Selain menyoroti tampilan visual, para kader juga mempersoalkan isi laporan yang dinilai kurang akurat, khususnya penggunaan istilah “merger”. Mereka menilai istilah itu tidak sesuai dengan konteks yang sebenarnya. Sebagai bentuk keberatan, sejumlah kader mendatangi kantor Tempo guna menyampaikan protes sekaligus meminta penjelasan.
Ketua DPW NasDem DKI Jakarta, Wibi Andrino, menyebut penyajian visual pada sampul tersebut berpotensi menimbulkan persepsi yang merendahkan. Ia menekankan bahwa kritik terhadap tokoh publik sah dilakukan, namun harus tetap disampaikan secara proporsional dan beretika.
Sementara itu, Ketua DPP NasDem, Willy Aditya, menegaskan bahwa penggunaan istilah “merger” tidak tepat. Ia menjelaskan bahwa gagasan yang disampaikan Surya Paloh lebih mengarah pada pembentukan kerja sama dalam bentuk blok politik, bukan peleburan partai.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua Baleg DPR dari Fraksi NasDem, Martin Manurung. Ia menilai pemberitaan tersebut telah melampaui batas kebebasan pers dan meminta Dewan Pers untuk menilai kemungkinan adanya pelanggaran kode etik jurnalistik.
Penolakan juga muncul dari tingkat daerah. Ketua DPW NasDem Sumatera Utara, Iskandar ST, memastikan bahwa tidak ada pembahasan mengenai penggabungan dengan partai lain. Ia menegaskan bahwa NasDem didirikan sebagai sarana perjuangan politik, bukan untuk dilebur atau diperjualbelikan.







