Metapos.id, Jakarta – Pimpinan QatarEnergy, Saad al-Kaabi, mengungkapkan bahwa ia telah berulang kali mengingatkan pemerintah Amerika Serikat dan pelaku industri energi dunia tentang potensi serangan terhadap fasilitas energi di Timur Tengah.
Peringatan itu sudah disampaikan jauh sebelum kawasan industri Ras Laffan di Qatar terdampak serangan balasan dari Iran. Al-Kaabi, yang juga menjabat sebagai Menteri Energi Qatar, mengatakan dirinya rutin berkomunikasi dengan pejabat tinggi AS serta mitra industri energi untuk menekankan pentingnya menjaga keamanan fasilitas minyak dan gas.
Ia menegaskan bahwa ancaman terhadap infrastruktur energi sebenarnya sudah lama ada.
Bahkan, ia mengaku hampir setiap hari mengingatkan soal risiko besar yang bisa terjadi jika konflik militer menyasar sektor vital tersebut.
Meski demikian, situasi justru semakin memanas. Sejak akhir Februari 2026, konflik antara AS dan Israel melawan Iran telah memicu berbagai serangan ke kapal tanker dan kilang minyak.
Ketegangan meningkat setelah ladang gas South Pars milik Iran diserang, yang kemudian dibalas dengan serangan ke fasilitas energi di sejumlah negara Teluk, termasuk Qatar.
Serangan ke Ras Laffan fasilitas LNG terbesar di dunia menyebabkan kerusakan parah, terutama pada komponen penting bernama “cold boxes” yang berfungsi mendinginkan gas sebelum dikirim. Akibatnya, sekitar 17 persen kapasitas ekspor LNG Qatar ikut terganggu.
Al-Kaabi memperkirakan dampak gangguan ini bisa berlangsung lama, terutama bagi pasokan energi ke Eropa dan Asia. Bahkan jika konflik segera berakhir, proses pemulihan penuh diperkirakan tetap membutuhkan waktu beberapa bulan.














