Metapos.id, Jakarta – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Israel Defense Forces melancarkan serangan ke wilayah selatan Lebanon. Salah satu target utama adalah Jembatan Qasmiyeh, jalur penting yang menghubungkan wilayah selatan dengan bagian lain negara tersebut.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menilai serangan tersebut sebagai sinyal awal kemungkinan invasi darat. Ia menyebut penghancuran infrastruktur vital ini berpotensi memutus konektivitas wilayah selatan Sungai Litani dengan daerah lain di Lebanon.
Serangan tersebut terjadi setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memerintahkan penghancuran seluruh jalur penyeberangan di atas Sungai Litani serta bangunan di sekitar perbatasan Lebanon–Israel. Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi militer untuk mengamankan wilayah perbatasan.
Aksi ini juga menandai eskalasi konflik antara Israel dan kelompok bersenjata Hezbollah. Ketegangan meningkat sejak awal Maret, menyusul serangan roket yang diluncurkan sebagai respons atas konflik sebelumnya di kawasan.
Lebih lanjut, Kepala Staf militer Israel, Eyal Zamir, menyatakan bahwa operasi militer saat ini masih berada di tahap awal dan berpotensi berlangsung dalam jangka waktu panjang. Ia juga mengindikasikan adanya persiapan untuk operasi darat serta serangan lanjutan yang lebih terarah.
Di sisi lain, pemerintah Lebanon menyampaikan telah membatasi aktivitas militer Hezbollah dan membuka peluang dialog dengan Israel. Namun, situasi tetap dinamis mengingat adanya ancaman lanjutan terkait kerusakan infrastruktur hingga potensi kehilangan wilayah jika ketegangan terus berlanjut.
Kondisi ini menambah daftar panjang konflik di kawasan, sekaligus meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya dampak perang di wilayah Timur Tengah.













