Metapos.id, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Agama kembali menggelar sidang isbat guna menentukan awal Syawal 1447 Hijriah. Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah pihak, di antaranya Ketua Komisi VIII DPR RI, perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), pejabat eselon I dan II Kementerian Agama, pimpinan organisasi masyarakat Islam, para ahli falak dan astronomi, serta perwakilan dari BMKG, Badan Informasi Geospasial, dan Planetarium Jakarta.
Sidang isbat menjadi wujud peran pemerintah (ulil amri) dalam memfasilitasi penetapan waktu ibadah umat Islam, khususnya yang berkaitan dengan hari besar keagamaan seperti Idulfitri. Selain itu, forum ini juga berfungsi sebagai ruang musyawarah untuk menjaga kesatuan umat dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Sebelum sidang utama, rangkaian kegiatan diawali dengan seminar yang disiarkan secara terbuka melalui kanal media sosial Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam. Seminar tersebut mengulas prinsip serta metode penentuan awal bulan Qamariah, yang dilengkapi dengan diskusi panel dari berbagai sudut pandang keilmuan.
Dalam proses penentuan, Indonesia menggunakan kriteria visibilitas hilal MABIMS, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.
Namun, berdasarkan perhitungan hisab, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia saat pengamatan berada pada ketinggian antara 0 derajat 54 menit 27 detik hingga 3 derajat 7 menit 52 detik, dengan sudut elongasi antara 4 derajat 32 menit 40 detik hingga 6 derajat 6 menit 11 detik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hilal belum memenuhi standar visibilitas yang ditetapkan.
Hasil rukyat yang dilakukan di 117 titik pemantauan di berbagai daerah, dari Papua hingga Aceh, juga tidak menemukan adanya laporan terlihatnya hilal.
Berdasarkan hasil hisab dan rukyat tersebut, serta melalui kesepakatan bersama para ulama, ahli, dan perwakilan ormas Islam, pemerintah menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Pemerintah berharap keputusan ini dapat menjadi acuan bersama bagi umat Islam di Indonesia dalam merayakan Idulfitri secara serempak, sekaligus mempererat persatuan dan kebersamaan di tengah masyarakat.














