Metapos.id, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan puncak musim kemarau 2026 akan berlangsung pada Agustus dan mencakup mayoritas wilayah Indonesia. Dari total 699 zona musim yang dianalisis, sebanyak 429 zona atau sekitar 61,4 persen diperkirakan mengalami puncak kemarau pada bulan tersebut.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa proyeksi ini harus menjadi perhatian lintas sektor. Ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan, terutama bagi bidang pertanian, pengelolaan sumber daya air, kehutanan, serta upaya mitigasi bencana kekeringan.
Tak hanya puncaknya, BMKG juga mengungkapkan bahwa awal musim kemarau 2026 diprediksi terjadi secara bertahap mulai April.
Pada bulan itu, sekitar 114 zona musim (16,3 persen) diperkirakan mulai memasuki periode kering. Jumlah tersebut meningkat pada Mei menjadi 184 zona musim (26,3 persen), dan kembali bertambah pada Juni dengan 163 zona musim (23,3 persen) yang mulai terdampak kemarau.
Secara geografis, musim kemarau diproyeksikan bermula dari kawasan Nusa Tenggara, lalu bergerak ke arah barat hingga menjangkau wilayah lain di Indonesia secara bertahap.
Dari sisi karakteristik, kemarau 2026 diperkirakan memiliki intensitas yang lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991–2020. Tercatat sekitar 451 zona musim diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal selama musim kemarau berlangsung.
Bila dibandingkan dengan pola 30 tahun terakhir, sekitar 325 zona musim atau 46,5 persen wilayah diperkirakan mengalami awal kemarau lebih cepat dari biasanya.
Sementara itu, 173 zona musim (23,7 persen) diproyeksikan memasuki musim kemarau sesuai dengan pola normal.














