Metapos.id, Jakarta — Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati mendorong pemanfaatan teknologi Ground Penetrating Radar (GPR) hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mendukung pencarian dan evakuasi korban longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Esti menilai, teknologi radar tersebut memiliki kemampuan mendeteksi objek di bawah permukaan tanah hingga kedalaman puluhan meter. Dengan keunggulan tersebut, GPR dinilai efektif digunakan dalam operasi pencarian korban bencana alam, terutama longsor yang menimbun korban di area sulit dijangkau.
Ia mengatakan, hingga saat ini masih terdapat korban yang diduga tertimbun material longsoran di kawasan kaki Gunung Burangrang. Penggunaan teknologi GPR diyakini dapat mempercepat proses pencarian dan meningkatkan efektivitas evakuasi di lapangan.
“Ground Penetrating Radar mampu mendeteksi keberadaan jenazah pada kedalaman ekstrem. Dalam kondisi bencana besar seperti yang terjadi di Cisarua, teknologi ini sangat dibutuhkan,” ujar Esti dalam keterangan tertulis, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, upaya evakuasi selama ini masih menghadapi berbagai hambatan, antara lain cuaca yang berubah-ubah, kabut tebal, medan yang berat, serta kondisi tanah yang belum stabil.
Karena itu, dukungan teknologi canggih dari BRIN dinilai penting untuk membantu tim di lapangan.
Esti berharap BRIN dapat segera mengambil langkah nyata dengan mengerahkan perangkat GPR ke lokasi bencana. Ia menegaskan bahwa situasi darurat membutuhkan respons cepat serta kerja sama lintas lembaga agar pencarian korban dapat berjalan optimal.
Teknologi GPR yang dikembangkan BRIN terintegrasi dengan drone atau pesawat tanpa awak (UAV), sehingga memungkinkan pemetaan bawah permukaan secara non-destruktif di wilayah yang sulit diakses. Sistem ini mampu menembus lapisan tanah hingga kedalaman sekitar 60 hingga 100 meter dan dilengkapi data spasial untuk menghasilkan peta struktur tanah yang akurat.
Selain Aero-GPR, BRIN juga mengembangkan teknologi lain seperti Ground-Based Synthetic Aperture Radar (GB SAR) dan radar berbasis Software Defined Radio (SDR) yang berfungsi memantau pergerakan tanah dan kondisi struktur secara presisi.
Lebih lanjut, Esti menekankan perlunya regulasi yang memperkuat peran BRIN dalam mitigasi bencana serta penanganan pascabencana. Ia menilai kajian dan rekomendasi ilmiah dari BRIN dapat menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan pencegahan bencana.
“BRIN memiliki data dan kajian strategis, termasuk rekomendasi terkait vegetasi dan karakteristik tanah. Informasi ini perlu dibuka dan dijadikan acuan agar risiko bencana serupa dapat ditekan di masa mendatang,” tutup Esti.













