Metapos.id, Jakarta – Pemerintah Iran melayangkan peringatan tegas kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar tidak mengambil langkah apa pun terhadap Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Pernyataan keras ini disampaikan pada Selasa (20/1/2026), menyusul komentar Trump yang dinilai menyerang legitimasi kepemimpinan Khamenei.
Juru bicara angkatan bersenjata Iran, Jenderal Abolfazl Shekarchi, menegaskan bahwa setiap bentuk agresi terhadap pemimpin tertinggi Iran akan memicu respons besar dari Teheran.
“Trump mengetahui betul bahwa jika ada tangan agresi yang diarahkan kepada pemimpin kami, kami tidak hanya akan memotong tangan itu, tetapi juga akan membakar dunia mereka,” ujar Shekarchi, seperti dikutip dari Associated Press.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump, dalam wawancara dengan Politico pada Sabtu (17/1/2026), menyebut Khamenei sebagai sosok yang “sakit” dan menilai Iran membutuhkan kepemimpinan baru setelah hampir empat dekade berada di bawah kendalinya.
Hubungan AS dan Iran kian memanas sejak aparat keamanan Iran melakukan penindakan keras terhadap gelombang demonstrasi yang meletus pada 28 Desember lalu. Aksi protes tersebut dipicu oleh krisis ekonomi yang memburuk. Trump sebelumnya menetapkan dua garis merah bagi Teheran, yakni larangan pembunuhan terhadap demonstran damai dan penghentian eksekusi massal pascaprotes.
Di tengah meningkatnya ketegangan, kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan melintasi Selat Malaka pada Selasa, setelah sebelumnya berada di kawasan Laut Tiongkok Selatan. Jalur tersebut merupakan rute strategis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Asia Timur.
Menurut laporan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di Amerika Serikat, jumlah korban tewas akibat gelombang protes di Iran telah mencapai sedikitnya 4.519 orang per Selasa. Lembaga tersebut dikenal memiliki rekam jejak akurat karena mengandalkan jaringan aktivis di dalam Iran, meski angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh Associated Press.
Jumlah korban ini disebut melampaui angka kematian dalam berbagai kerusuhan besar di Iran selama beberapa dekade terakhir, dan mengingatkan pada situasi kacau menjelang Revolusi Islam 1979. Meski unjuk rasa mereda dalam beberapa hari terakhir, kekhawatiran meningkatnya jumlah korban masih ada, terutama karena keterbatasan informasi akibat pembatasan internet yang diberlakukan pemerintah sejak 8 Januari.
Pada Sabtu lalu, Khamenei untuk pertama kalinya mengakui besarnya korban jiwa dengan menyebut jumlahnya mencapai “beberapa ribu” orang. Ia menuding Amerika Serikat berada di balik kerusuhan tersebut.
Selain korban tewas, lebih dari 26.300 orang dilaporkan telah ditangkap. Pernyataan sejumlah pejabat Iran memicu kekhawatiran internasional terkait kemungkinan vonis mati bagi sebagian tahanan, mengingat Iran merupakan salah satu negara dengan tingkat eksekusi tertinggi di dunia.
Kepala Kepolisian Nasional Iran, Jenderal Ahmad Reza Radan, mengatakan pihaknya memberi kesempatan bagi para demonstran yang ingin menyerahkan diri. Menurutnya, mereka yang menyerah akan mendapatkan keringanan hukuman.
“Individu yang terpengaruh intelijen asing dan pada praktiknya menjadi alat mereka masih memiliki kesempatan untuk menyerahkan diri. Jika itu dilakukan, hukuman pasti akan diringankan,” ujar Radan dalam wawancara televisi pada Senin. Ia menyebut batas waktu penyerahan diri adalah tiga hari, tanpa menjelaskan konsekuensi setelah tenggat tersebut berakhir.













