Metapos.id, Jakarta – Lisan merupakan salah satu anggota tubuh yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan dan amal manusia. Karena itu, Islam memberikan perhatian besar terhadap bagaimana seseorang menggunakan lisannya setiap hari.
Rasulullah ﷺ bahkan mengingatkan bahwa setiap pagi seluruh anggota tubuh seakan menyerahkan urusannya kepada lisan. Pesan tersebut menunjukkan bahwa perkataan seseorang dapat membawa pengaruh terhadap anggota tubuh lainnya.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila anak Adam memasuki pagi hari, seluruh anggota tubuhnya tunduk kepada lisan. Mereka berkata: ‘Bertakwalah kepada Allah dalam urusan kami. Sesungguhnya kami bergantung kepadamu. Jika engkau istiqamah, kami pun istiqamah. Jika engkau menyimpang, kami pun menyimpang.’”
(HR. At-Tirmidzi no. 2407, Ahmad no. 11927; dinilai hasan oleh Al-Albani).
Lisan memang kecil dan tidak bertulang, tetapi perkataan yang keluar darinya dapat mengangkat kehormatan seseorang maupun menghancurkannya.
Satu kalimat dapat menjadi sebab datangnya pahala, sementara ucapan yang buruk dapat menjadi sebab seseorang memperoleh dosa.
Karena itu, seorang Muslim dianjurkan membiasakan lisannya dengan dzikir, membaca Al-Qur’an, berkata jujur, memberikan nasihat, serta mengucapkan perkataan yang baik.
Sebaliknya, seorang Muslim perlu berhati-hati dari berbagai bentuk ucapan yang dapat mendatangkan dosa, seperti dusta, ghibah, namimah, fitnah, celaan, maupun perkataan yang menyakiti orang lain.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
“Tidaklah dia mengucapkan suatu perkataan melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qāf: 18).
Nasihat Nabi kepada Mu’adz bin Jabal
Pentingnya menjaga lisan juga terlihat dalam nasihat Rasulullah ﷺ kepada sahabat Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه.
Ketika itu, Mu’adz bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai amal yang dapat memasukkan seseorang ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka.
Nabi ﷺ kemudian menjelaskan berbagai pintu kebaikan. Setelah itu, beliau memegang lisannya dan bersabda:
“Tahanlah ini!”
Mu’adz kemudian bertanya:
“Wahai Nabi Allah, apakah kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita ucapkan?”
Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:
“Celakalah engkau wahai Mu‘ādz! Bukankah yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka dengan wajah mereka—atau hidung mereka—adalah hasil dari ucapan lisan mereka?”
(HR. At-Tirmidzi no. 2616, dinilai hasan shahih).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa menjaga lisan bukan perkara sepele. Banyak dosa dapat bermula dari sesuatu yang sederhana, yakni sebuah ucapan.
Ghibah, dusta, fitnah, namimah, mencela, hingga menyakiti hati orang lain dapat terjadi ketika seseorang tidak mampu menjaga perkataannya.
Karena itu, Rasulullah ﷺ juga memberikan prinsip sederhana bagi seorang Muslim dalam berbicara:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(Muttafaqun ‘alaih).
Lisan Menentukan Arah
Nasihat tersebut menjadi pengingat bahwa setiap perkataan memiliki konsekuensi. Seseorang perlu mempertimbangkan apa yang akan terjadi sebelum mengucapkan sesuatu.
Tidak semua hal yang benar harus selalu diucapkan, dan tidak semua hal yang ingin dikatakan harus disampaikan.
Setiap pagi, pesan tentang lisan tersebut dapat menjadi bahan renungan agar seseorang lebih berhati-hati dalam berbicara.
Jika lisan dijaga dan digunakan untuk kebaikan, perkataan dapat menjadi jalan menuju pahala. Sebaliknya, ucapan yang tidak terkendali dapat menjadi sumber dosa dan penyesalan.
Karena itu, menjaga lisan bukan sekadar menahan diri dari perkataan buruk, tetapi juga membiasakan diri menggunakan ucapan untuk hal-hal yang bermanfaat.







