Metapos.id, Jakarta – Pemerintah Rusia mengecam keras serangan militer Israel yang mengenai sebuah pusat kebudayaan Rusia di Lebanon. Moskow menilai serangan tersebut sebagai tindakan agresi yang tidak dapat dibenarkan karena menyasar fasilitas sipil yang tidak berkaitan dengan aktivitas militer.
Direktur pusat kebudayaan Rusia di kota Nabatieh, Asaad Diya, mengatakan gedung tersebut diserang pada Minggu waktu setempat. Ia menjelaskan bahwa bangunan dalam keadaan kosong ketika serangan terjadi sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.
“Fasilitas ini tidak terlibat dalam aktivitas militer apa pun,” kata badan kerja sama kemanusiaan internasional Rusia, Rossotrudnichestvo, dalam pernyataannya, Rabu (11/3).
Lembaga tersebut juga menyatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan mitra lokal di Lebanon serta memberikan bantuan kepada warga sipil yang terdampak konflik di wilayah tersebut.
Menurut Rossotrudnichestvo, pusat kebudayaan Rusia di Nabatieh merupakan fasilitas sipil yang dioperasikan bersama mitra lokal. Oleh karena itu, serangan terhadap bangunan tersebut dinilai tidak memiliki dasar pembenaran dan berpotensi melanggar norma internasional terkait perlindungan terhadap infrastruktur sipil.
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya operasi militer Israel di wilayah selatan Lebanon. Pada awal bulan ini, Israel kembali melancarkan serangan udara dan operasi darat yang menargetkan kelompok militan Hezbollah.
Operasi militer tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan regional yang juga melibatkan Amerika Serikat dalam tekanan militer terhadap Iran. Kondisi ini membuat situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas.
Rossotrudnichestvo juga menyinggung insiden serupa yang pernah terjadi pada masa lalu. Dalam konflik Perang Yom Kippur tahun 1973, Israel disebut pernah menyerang pusat kebudayaan Soviet di Damaskus, Suriah.
Serangan pada saat itu menewaskan seorang guru bahasa Rusia dan seorang staf lokal. Lembaga tersebut menyebut pesawat yang melakukan pemboman akhirnya ditembak jatuh oleh pasukan Suriah dan pilotnya berhasil ditangkap.
Perang Yom Kippur sendiri merupakan konflik antara Israel dan koalisi negara Arab yang terjadi pada 1973. Meski berakhir tanpa pemenang yang jelas, perang tersebut memicu embargo minyak oleh negara-negara Arab terhadap negara yang mendukung Israel dan berdampak besar pada harga energi global.














