Metapos.id, Jakarta – Arab Saudi memiliki sistem pertahanan udara berlapis, termasuk rudal pencegat Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) buatan Amerika Serikat (AS), tetapi sejumlah serangan kelompok Houthi dari Yaman masih berhasil menghantam wilayahnya.
Dilansir dari berbagai sumber, Selasa (13/10/2026), serangan tersebut menyasar sejumlah bandara, termasuk Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Bandara King Fahd di Dammam, Bandara Abha, Bandara Jazan, dan Bandara Najran.
Serangan terhadap Bandara King Khalid menjadi perhatian setelah insiden pada Sabtu (10/10/2026) menewaskan belasan orang dan melukai ratusan lainnya, menurut laporan otoritas Saudi yang dikutip media internasional.
Meski memiliki persenjataan canggih, Arab Saudi menghadapi tantangan dalam melindungi wilayahnya yang luas dan perbatasan panjang dengan Yaman.
Peneliti senior Departemen Studi Perang King’s College, Nawaf Obaid, menilai keberhasilan sebagian serangan merupakan risiko yang tetap ada dalam sistem pertahanan udara.
“Betapapun canggihnya sistem pertahanan udara berlapis yang dimiliki, pasti akan ada satu serangan yang berhasil lolos,” ujarnya.
Obaid menjelaskan bahwa setiap serangan yang berhasil menembus pertahanan perlu dilihat bersama dengan banyaknya serangan lain yang berhasil dicegat.
Sementara itu, analis kebijakan keamanan dan pertahanan Wolfgang Pusztai mengatakan sistem pertahanan rudal balistik Saudi sebelumnya lebih berfokus menghadapi ancaman dari Iran. Meningkatnya serangan dari arah Yaman dapat mendorong penyesuaian penempatan sistem pertahanan.
Persediaan rudal pencegat juga menjadi tantangan. Arab Saudi dan sejumlah negara sekutu AS dilaporkan menghadapi keterbatasan stok amunisi Patriot dan THAAD setelah penggunaannya meningkat selama konflik regional.
Di sisi lain, kemampuan persenjataan Houthi dinilai banyak dipengaruhi teknologi Iran. Obaid menyebut kemampuan produksi domestik kelompok tersebut masih terbatas, terutama pada sejumlah jenis rudal dan drone berteknologi lebih sederhana.
“Secara militer, koalisi pimpinan Arab Saudi lebih unggul, namun Houthi masih mampu mendominasi pemberitaan melalui serangan sesekali terhadap Arab Saudi. Sebagai eksportir minyak mentah terbesar di dunia dan negara ekonomi anggota G20, Arab Saudi memikul tanggung jawab global yang membuat serangan semacam itu mendapat sorotan luar biasa,” ujar Obaid.
Kombinasi luasnya wilayah yang harus dilindungi, keterbatasan amunisi pencegat, serta strategi serangan Houthi menjadi sejumlah faktor yang disoroti dalam menjelaskan mengapa sebagian proyektil masih dapat mencapai sasaran di Arab Saudi.







