Metapos.id, Jakarta – Jenis makanan yang disukai seseorang pernah menjadi bagian dari penelitian mengenai karakter dan kepribadian. Salah satu riset menemukan adanya keterkaitan antara kegemaran terhadap rasa pahit dengan beberapa karakter antisosial.
Penelitian dari University of Innsbruck, Austria, melibatkan 935 orang sebagai responden. Mereka diminta mengungkapkan tingkat kesukaan terhadap makanan dan minuman dengan rasa manis, asam, asin, serta pahit.
Para peserta kemudian mengikuti empat jenis tes kepribadian. Pengujian tersebut digunakan untuk mengidentifikasi sejumlah karakter, seperti kecenderungan antisosial, narsistik, agresif, dan sadistis.
Hasil riset memperlihatkan bahwa tingkat kesukaan yang lebih tinggi terhadap rasa pahit berkaitan dengan kecenderungan perilaku sadis. Hubungan serupa juga ditemukan antara preferensi rasa pahit dan perilaku sadisme dalam kehidupan sehari-hari.
Makanan yang Dikaitkan dengan Ciri Psikopat
Temuan lain dari penelitian Sagioglou dan Greitemeyer turut menunjukkan hubungan antara kesukaan terhadap rasa pahit dengan kecenderungan sifat kejam.
Kopi, lobak, bir, air tonic, dan seledri merupakan beberapa contoh makanan atau minuman yang memiliki rasa pahit. Dibandingkan rasa lainnya, preferensi terhadap rasa pahit dalam penelitian tersebut menunjukkan hubungan yang lebih kuat dengan karakter tertentu yang berkaitan dengan sifat antisosial.
Penelitian tersebut juga menyinggung supertasting, yakni kondisi ketika seseorang mempunyai kepekaan yang lebih tinggi terhadap rasa pahit. Tingkat sensitivitas tersebut dikaitkan dengan respons emosional tertentu pada manusia dan juga pernah diamati dalam penelitian terhadap hewan.
Sebaliknya, individu dengan karakter yang lebih ramah cenderung menyukai makanan manis. Contohnya permen dan cokelat.
Psikopat Bukan Diagnosis Kesehatan Mental
Istilah psikopat sering digunakan untuk menggambarkan individu yang dianggap kejam atau tidak memiliki empati. Padahal, psikopat bukan nama diagnosis kesehatan mental yang berdiri sendiri.
Eric Patterson, konselor profesional berlisensi di Cabot, Pennsylvania, mengatakan masih banyak informasi keliru mengenai psikopat. Istilah tersebut bahkan kerap digunakan sebagai label negatif kepada seseorang.
Dalam bidang psikiatri, karakteristik yang sering disebut psikopati memiliki keterkaitan dengan gangguan kepribadian antisosial atau Antisocial Personality Disorder (ASPD).
Oleh sebab itu, seseorang tidak dapat dinilai mengalami ASPD hanya berdasarkan makanan yang menjadi favoritnya. Diagnosis gangguan kepribadian memerlukan penilaian terhadap pola perilaku dan kriteria klinis yang berlaku.
Berikut sejumlah karakteristik yang dapat dikaitkan dengan ASPD, berdasarkan rangkuman Psych Central:
1. Mengabaikan hak orang lain dan norma sosial
Salah satu tanda yang dapat terlihat pada ASPD adalah kecenderungan mengabaikan hak orang lain. Perilaku tersebut dapat berupa tindakan yang bertentangan dengan aturan sosial maupun hukum.
Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5), ASPD dijelaskan sebagai pola perilaku yang menunjukkan pengabaian terhadap hak orang lain.
Sejumlah penelitian menyebut individu dengan karakter psikopatik sebenarnya dapat memahami sudut pandang orang lain. Namun, kemampuan tersebut tidak selalu digunakan secara efektif sehingga dapat berkontribusi pada sikap tidak peduli terhadap lingkungan.
2. Gemar berbohong dan melakukan manipulasi
Individu dengan ASPD dapat memiliki kecenderungan untuk berbohong, termasuk menyembunyikan identitas atau menggunakan nama lain.
Kebohongan tersebut dapat dilakukan demi memperoleh keuntungan tertentu. Mereka juga bisa memengaruhi orang lain melalui pesona, pujian, tekanan emosional, hingga pemerasan.
3. Cenderung agresif
Perilaku agresif tidak selalu berbentuk kekerasan secara fisik. Sikap tersebut juga dapat terlihat melalui mudah tersinggung, perilaku kasar, atau serangan verbal.
Meski demikian, tidak semua individu dengan karakter psikopatik akan menunjukkan agresivitas secara fisik.
4. Sering bertindak tanpa pertimbangan
Sifat impulsif membuat seseorang mengambil keputusan secara spontan tanpa mempertimbangkan konsekuensi dari tindakannya.
Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang lebih rentan melakukan tindakan berisiko. Perilaku impulsif juga dikaitkan dengan kemungkinan lebih tinggi mengalami masalah penggunaan zat serta melakukan aktivitas seksual berisiko.
5. Minim rasa bersalah atau penyesalan
Individu dengan ASPD dapat menunjukkan sedikit atau bahkan tidak menunjukkan rasa bersalah setelah melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
Mereka juga dapat berusaha mencari pembenaran atas perbuatannya atau menganggap dampak yang ditimbulkan tidak terlalu besar.
Meski terdapat penelitian mengenai hubungan preferensi makanan dan karakter tertentu, kesukaan terhadap makanan pahit tidak dapat digunakan untuk menentukan seseorang sebagai psikopat. Penilaian terhadap gangguan kepribadian tetap harus berdasarkan pola perilaku dan kriteria klinis, bukan sekadar pilihan makanan.







