Metapos.id, Jakarta — Aktivitas hiburan pada malam hari kerap membuat anak muda tidur lebih larut. Bermain game online, menonton film atau serial, serta menggunakan media sosial menjadi beberapa kegiatan yang dapat mengurangi waktu tidur.
Kebiasaan tersebut tidak selalu terasa dampaknya secara langsung. Namun, jika berlangsung terus-menerus, kurang tidur dapat memengaruhi kondisi tubuh, termasuk kesehatan otak.
Dokter Spesialis Neurologi, dr. Oktaviana Niken P., Sp.N., DAIFIDN., MMRS., FNR., AIFO-K, mengatakan tidur memiliki peran penting dalam menjaga fungsi tubuh.
Saat seseorang terlelap, otak tetap melakukan berbagai aktivitas. Salah satunya adalah proses pengolahan dan penyimpanan informasi yang berkaitan dengan memori.
“Pada saat kamu tidur, selain otak lagi deep clean, dia juga lagi konsolidasi memori. Jika kualitas tidur kita tidak baik, otomatis konsolidasi memori itu tidak terjadi,” katanya dalam Grand Launching Brain Wellness & Sleep Center di Seraphim Medical Center, Gading Serpong, Tangerang, Rabu (2/10/2026).
Gangguan pada proses tersebut dapat berdampak pada kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Kurang tidur dapat membuat konsentrasi menurun, proses belajar terganggu, serta meningkatkan kemungkinan mudah lupa.
“Akibatnya, besoknya kita kurang konsentrasi, kemampuan belajar itu berkurang, mudah lupa, yang makin lama akan mempengaruhi seperti lingkaran setan,” tambahnya.
Begadang Bisa Memicu Stres
Dampak kurang tidur juga dapat berkaitan dengan kondisi emosional. Jika berlangsung dalam waktu lama, gangguan tidur dapat memengaruhi keseimbangan hormon di dalam tubuh.
dr. Niken menjelaskan, kurang tidur secara terus-menerus dapat meningkatkan hormon kortisol. Kondisi tersebut kemudian dapat berpengaruh terhadap kualitas tidur berikutnya.
“Efek jangka panjangnya bisa mudah stres, karena hormon kortisol itu meningkat. Di-trigger lagi kortisol meningkat, siklus tidur tidak membaik,” papar dr. Niken.
Selain berhubungan dengan stres, peningkatan kortisol juga dapat memengaruhi metabolisme tubuh. Kondisi ini dapat berdampak pada pengolahan gula dan lemak serta berkaitan dengan kenaikan berat badan.
“Hormon kortisol meningkat terus, berat badan itu menjadi meningkat, yang lama-lama membawa ke arah penyakit metabolik,” tegasnya.
Pentingnya Memperbaiki Pola Tidur
Karena itu, dr. Niken mengingatkan generasi muda untuk mulai memperhatikan kebiasaan tidur. Perubahan pola istirahat menjadi salah satu langkah untuk menjaga kesehatan otak.
Tidur yang cukup dan berkualitas memberikan kesempatan bagi tubuh untuk menjalankan proses pemulihan. Selain itu, pola tidur yang baik turut mendukung fungsi kognitif dalam jangka panjang.
“Ketika tidur kita mulai diperbaiki, maka ini jadi satu langkah yang cukup baik untuk brain wellness untuk masa depan,” pungkas dr. Niken.







