Metapos.id, Jakarta – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan telah menyiapkan skenario pelarian dari Teheran apabila aparat keamanan gagal mengendalikan demonstrasi atau mulai menunjukkan tanda-tanda pembelotan. Informasi ini muncul dari laporan intelijen yang menyebut adanya rencana evakuasi darurat bagi Khamenei dan lingkaran terdekatnya.
Rencana tersebut dikabarkan mencakup pemindahan Khamenei bersama sekitar 20 orang terdekat, termasuk putranya yang disebut-sebut sebagai calon penerus, Mojtaba Khamenei. Skema ini disebut sebagai “rencana cadangan” jika situasi keamanan di ibu kota memburuk secara signifikan.
Moskow disebut sebagai tujuan utama pelarian. Sejumlah sumber menyebut Rusia menjadi pilihan paling realistis bagi Khamenei, mengingat kedekatan politiknya dengan Presiden Vladimir Putin serta pandangannya bahwa Rusia memiliki kesamaan budaya dan geopolitik dengan Iran.
Langkah ini dinilai meniru pola yang pernah terjadi pada Desember 2024, ketika Presiden Suriah Bashar al-Assad meninggalkan Damaskus menuju Moskow menjelang jatuhnya ibu kota ke tangan oposisi. Khamenei juga disebut telah menyiapkan aset, properti di luar negeri, serta dana tunai sebagai bagian dari persiapan evakuasi.
Selama ini, Khamenei diketahui mengendalikan jaringan kekayaan besar melalui Setad, sebuah lembaga semi-negara yang operasinya tertutup dari pengawasan publik. Investigasi sebelumnya memperkirakan nilai aset yang berada di bawah kendalinya mencapai puluhan miliar dolar AS.
Laporan intelijen juga menyebut sejumlah pembantu senior Khamenei memiliki keluarga yang bermukim di luar negeri, termasuk di Amerika Serikat, Kanada, dan kawasan Teluk. Nama Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, turut disebut dalam konteks tersebut.
Gelombang protes di Iran dipicu tekanan ekonomi yang kian berat dan telah meluas ke berbagai kota, termasuk Qom. Aparat keamanan seperti Garda Revolusi Iran (IRGC), milisi Basij, kepolisian, dan militer dilaporkan menggunakan kekuatan berlebihan, termasuk peluru tajam dan gas air mata, untuk membubarkan massa. Seluruh aparat tersebut berada langsung di bawah komando Khamenei.
Sejak perang singkat melawan Israel tahun lalu, Khamenei juga disebut mengalami penurunan kondisi fisik dan mental. Ia dilaporkan sempat berlindung di bunker selama konflik tersebut untuk menghindari ancaman serangan langsung.
Penilaian intelijen Barat menyebut kecenderungan paranoid Khamenei turut mendorong penyusunan rencana pelarian ini. Selain faktor keamanan, kemarahan publik juga dipicu oleh kebijakan luar negeri Iran yang dinilai terlalu menguras sumber daya negara.
Investasi besar Teheran dalam poros perlawanan—termasuk dukungan terhadap Hezbollah, Hamas, serta milisi Syiah di Irak, Suriah, dan Yaman—semakin dipertanyakan di tengah inflasi tinggi dan kondisi ekonomi rakyat yang terus memburuk.













