Metapos.id, Jakarta — Tradisi berbuka puasa kerap dimaknai dengan konsumsi beragam hidangan manis dan gorengan secara berlebihan. Menyikapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan pola makan sehat dan seimbang agar pelaksanaan ibadah puasa tidak menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan selama Ramadan.
Ketua Tim Kerja Gizi Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes, Yuni Zahraini, menekankan bahwa konsumsi makanan manis saat berbuka sebaiknya dilakukan secara terkendali. Menurutnya, asupan gula berlebih dapat mengganggu metabolisme tubuh dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan dalam jangka panjang.
Ia menjelaskan, minuman manis seperti sirup, teh manis, hingga minuman kemasan mampu meningkatkan asupan gula harian secara signifikan. Tanpa diimbangi aktivitas fisik yang memadai, kelebihan energi tersebut berpotensi tersimpan sebagai lemak dan memicu berbagai gangguan metabolik.
Tak hanya gula, makanan tinggi lemak seperti gorengan, santan kental, dan makanan cepat saji juga menjadi perhatian. Pola konsumsi tinggi lemak jenuh dalam jangka panjang dapat meningkatkan kadar kolesterol, memperbesar lingkar perut (obesitas sentral), serta meningkatkan risiko penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes dan hipertensi.
Mengacu pada rekomendasi World Health Organization (WHO), Kemenkes menyampaikan bahwa batas aman konsumsi gula tambahan maksimal 10 persen dari total kebutuhan energi harian, setara sekitar 50 gram atau empat sendok makan per hari. Sementara anjuran yang lebih ideal bagi kesehatan adalah 5 persen dari total energi harian, atau sekitar 25 gram (empat sendok teh) per hari.
Kemenkes juga menegaskan pentingnya pemenuhan gizi seimbang melalui komposisi karbohidrat, protein, dan lemak yang proporsional, serta kecukupan vitamin dan mineral dari konsumsi sayur dan buah, meskipun waktu makan selama puasa terbatas.
Imbauan tersebut disampaikan seiring meningkatnya tradisi buka puasa bersama di berbagai tempat ibadah, termasuk di Masjid Istiqlal, yang menjadi pusat aktivitas keagamaan dan sosial masyarakat selama bulan Ramadan.













