Metapos.id, Jakarta – Bayangkan terdampar seorang diri di tempat asing setelah kapal yang ditumpangi pecah, lalu berhadapan dengan seekor singa di tengah hutan. Situasi tersebut tentu menakutkan bagi siapa pun. Namun, sebuah riwayat mengisahkan pengalaman tak biasa yang dialami Safinah, seorang sahabat sekaligus pelayan Rasulullah ﷺ.
Dalam kisah tersebut, Safinah menyebut dirinya sebagai orang yang melayani Rasulullah ﷺ ketika berhadapan dengan singa. Alih-alih menyerang, hewan buas itu justru membantunya menemukan jalan keluar.
Kisah ini tercatat dalam sejumlah kitab hadis dan sering dibahas sebagai salah satu riwayat tentang karamah yang dialami seorang sahabat Nabi.
Safinah, Pelayan Rasulullah yang Dijuluki Kapal
Safinah dikenal sebagai maula Rasulullah ﷺ, yakni orang yang memiliki hubungan pengabdian dan perwalian dengan beliau. Nama Safinah sendiri berarti kapal dalam bahasa Arab.
Dalam riwayat yang dikenal luas, julukan tersebut dikaitkan dengan kebiasaannya membantu membawa barang-barang dalam perjalanan bersama Rasulullah ﷺ. Ia disebut mampu membawa banyak barang hingga diibaratkan seperti sebuah kapal yang menampung muatan.
Julukan itu kemudian melekat pada dirinya dan lebih dikenal dalam berbagai kitab sejarah Islam dibandingkan nama aslinya, yang disebut berbeda-beda dalam sejumlah sumber.
Kisah Safinah memperlihatkan sosok yang dikenal melalui pengabdiannya kepada Rasulullah ﷺ. Namun, salah satu riwayat yang paling menarik perhatian tentang dirinya justru berkaitan dengan pertemuannya dengan seekor singa.
Kisah Safinah Bertemu Singa
Dalam salah satu riwayat yang tercatat dalam Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain karya Imam Al-Hakim, Safinah menceritakan bahwa ia pernah melakukan perjalanan melalui laut. Kapal yang ditumpanginya kemudian pecah, sehingga ia bertahan dengan berpegangan pada salah satu papan kapal.
Papan tersebut membawanya hingga ke sebuah kawasan berhutan yang dihuni seekor singa. Ketika hewan itu mendekatinya, Safinah menyadari bahaya yang sedang dihadapinya.
Ia kemudian berkata kepada singa tersebut:
“Wahai Abu al-Harith, aku adalah maula Rasulullah ﷺ.”
Abu al-Harith merupakan julukan yang digunakan untuk menyebut singa dalam bahasa Arab.
Menurut riwayat itu, singa tersebut menundukkan kepalanya, kemudian mendekati Safinah. Hewan itu mendorongnya dengan bagian bahunya hingga membantunya keluar dari kawasan berhutan dan menemukan jalan.
Setelah Safinah sampai di jalan, singa tersebut mengeluarkan suara. Safinah menduga suara itu seperti perpisahan. Setelah itu, singa tersebut pergi dan itulah akhir perjumpaannya dengan hewan tersebut.
Riwayat ini dicatat oleh Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Dalam penilaiannya, Al-Hakim menyebut hadis tersebut sahih sanadnya. Kisah serupa juga tercantum dalam kitab Al-Mu’jam al-Kabir karya Imam Ath-Thabarani dan sejumlah sumber hadis lainnya.
Ada pula riwayat lain yang mengisahkan Safinah terpisah dari pasukan Muslim ketika berada di wilayah Romawi. Dalam versi tersebut, ia bertemu singa ketika berusaha mencari kembali pasukannya. Setelah mengetahui bahwa Safinah merupakan pelayan Rasulullah ﷺ, singa itu berjalan di sisinya hingga ia menemukan pasukan.
Kedua versi tersebut memiliki perbedaan latar kejadian. Karena itu, kisah terdampar akibat kapal pecah dan kisah terpisah dari pasukan sebaiknya tidak digabungkan sebagai satu rangkaian peristiwa yang sama.
Apa yang Bisa Dipetik dari Kisah Safinah?
Kisah Safinah dan singa menjadi salah satu riwayat yang mengundang perenungan tentang pertolongan Allah, keteguhan iman, serta kedudukan para sahabat yang mengabdikan diri kepada Rasulullah ﷺ.
Meski demikian, pelajaran dari kisah ini perlu dipahami secara proporsional. Riwayat tersebut tidak berarti bahwa seseorang yang saleh pasti terhindar dari bahaya atau akan selalu mendapatkan pertolongan dalam bentuk yang luar biasa.
Ada beberapa hal yang dapat direnungkan dari kisah tersebut.
1. Mengingat Allah di tengah kesulitan
Ketika menghadapi situasi yang mengancam, seorang Muslim diajarkan untuk tetap berusaha, berdoa, dan bertawakal kepada Allah. Kisah Safinah mengingatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan membutuhkan pertolongan-Nya dalam menghadapi keadaan yang tidak terduga.
2. Menghargai pengabdian dan ketulusan
Safinah dikenal melalui pengabdiannya kepada Rasulullah ﷺ. Kisah hidupnya menjadi pengingat bahwa kontribusi seseorang tidak selalu diukur dari kedudukan atau popularitas, tetapi juga dari kesungguhan dalam menjalankan peran dan memberikan manfaat bagi orang lain.
3. Memahami karamah dengan bijak
Dalam tradisi Islam, karamah merujuk pada kejadian luar biasa yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang saleh. Kisah Safinah dan singa sering dipahami dalam kerangka tersebut.
Namun, karamah bukan sesuatu yang dapat dituntut atau dijadikan ukuran mutlak kesalehan seseorang. Seorang Muslim tetap perlu berpegang pada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak menambahkan detail yang tidak terdapat dalam riwayat.
Sumber Riwayat Kisah Safinah
Kisah pertemuan Safinah dengan singa dapat ditemukan dalam Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain karya Imam Al-Hakim. Riwayat tersebut juga dicatat dalam Al-Mu’jam al-Kabir karya Imam Ath-Thabarani dan dibahas dalam literatur hadis lainnya.
Salah satu versi riwayat tercantum dalam Al-Mustadrak, Kitab Ma’rifah ash-Shahabah, dengan nomor hadis yang berbeda menurut edisi dan penomoran yang digunakan. Dalam riwayat tersebut, Safinah menceritakan langsung pengalamannya setelah kapal yang ditumpanginya pecah dan ia bertemu singa di kawasan berhutan.
Dengan merujuk pada sumber-sumber tersebut, kisah Safinah dapat disajikan sebagai riwayat yang memiliki dasar dalam literatur hadis. Sementara itu, rincian yang tidak disebutkan dalam sumber sebaiknya tidak ditambahkan sebagai fakta sejarah.
Kisah ini mengingatkan pembaca bahwa kehidupan para sahabat menyimpan banyak pengalaman yang dapat dipelajari. Selain meneladani pengabdian mereka kepada Rasulullah ﷺ, umat Islam juga perlu menjaga ketelitian dalam memahami dan menyampaikan kisah-kisah yang berkaitan dengan sejarah Islam.







