Metapos.id, Jakarta — Seorang pemuda asal Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau (Kepri), bernama Rendi dikabarkan meninggal dunia saat berada di Rusia. Ia diduga berangkat ke negara tersebut untuk bekerja dan kemudian terlibat sebagai pasukan yang membela Rusia.
Ketua RT 03/RW 01 Air Keruh, Kelurahan Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur, Natuna, Starki mengatakan informasi mengenai kabar kematian Rendi diperoleh keluarga dari rekan Rendi yang berada di Indonesia.
“Pihak keluarga dapat telepon dari kawannya yang di Indonesia, itu dia sudah meninggal,” kata Starki, dikutip dari berbagai sumber, Rabu (30/9/2026).
Starki menjelaskan Rendi meninggalkan Natuna sekitar 2022 dengan tujuan mencari pekerjaan. Ia sempat tinggal di Tanjungpinang, kemudian berpindah ke Batam dan Jakarta.
“Dia meninggalkan Ranai sekitar 2022. Tujuan awalnya ke Tanjungpinang, cari kerja. Setelah beberapa tahun di Tanjungpinang, ke Batam, kemudian ke Jakarta,” ujarnya.
Keluarga kemudian mengetahui Rendi sempat bekerja di Filipina pada bidang jaringan atau internet. Sekitar Februari-Maret 2026, keluarga memperoleh informasi bahwa Rendi berada di Rusia.
Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, Rendi disebut berangkat dari Jakarta menuju Dubai sebelum melanjutkan perjalanan ke Rusia sekitar Mei 2026.
Starki mengatakan pada awalnya keluarga mendapat informasi bahwa Rendi bekerja di Rusia pada bagian logistik makanan, bukan sebagai tentara bayaran.
“Jadi keterangan si Rendi ini, dia bekerja di Rusia itu bukan sebagai tentara bayaran, tapi sebagai pengantar logistik makanan,” ujarnya.
Namun, Rendi kemudian dikabarkan akan dialihkan dari pekerjaan logistik menjadi pasukan tempur. Menurut cerita yang diterima keluarga, Rendi sempat menolak pemindahan tersebut karena tidak sesuai dengan pekerjaan yang disepakati sebelumnya.
“Dia menolak karena tidak sesuai dengan kontraknya. Setelah itu dia sudah pasrah, mau mundur tidak bisa, mau tidak mau ikut alur. Tidak bisa kembali ke Indonesia karena paspornya ditahan,” ujarnya.
Komunikasi Rendi dengan keluarganya kemudian terputus setelah beberapa waktu berada di Rusia. Keluarga awalnya menduga telepon Rendi tidak aktif karena masalah baterai atau kondisi lainnya.
Belakangan, keluarga memperoleh kabar dari rekan Rendi di Indonesia bahwa pemuda tersebut telah meninggal dunia.
“Tak lama kemudian dapat telepon dari kawannya yang di Indonesia, itu dia sudah meninggal,” kata Starki.
Rendi disebut tewas dalam serangan drone Ukraina yang menyasar wilayah Rusia. Informasi yang diterima Starki menyebut serangan tersebut terjadi beberapa waktu lalu.
Seorang rekan Rendi juga disebut mengalami luka parah dalam serangan tersebut. Sementara itu, keberadaan jenazah Rendi hingga kini belum diketahui.
“Keterangan dari kawannya itu, jenazahnya pun tidak ditemukan. Sudah hancur, tidak tahu di mana,” ujarnya.
Pihak keluarga masih menunggu kepastian mengenai kondisi Rendi. Mereka juga berharap dapat melihat dan memastikan keberadaan jenazah apabila kabar kematian tersebut telah terkonfirmasi.
“Keluarga mau lihat jenazahnya anaknya ini seperti apa. Kalau memang betul sudah dinyatakan meninggal,” ujarnya.
Terkait kabar Rendi memperoleh bayaran sekitar Rp600 juta, Starki mengatakan keluarga belum pernah menerima uang dengan jumlah tersebut.
Memang terdapat informasi mengenai nilai kontrak mencapai Rp600 juta. Namun, belum diketahui apakah pembayaran dilakukan saat kontrak ditandatangani atau setelah pekerjaan selesai.
“Yang itu kita belum dapat keterangan pasti. Apakah setelah kontrak itu selesai baru dibayarkan Rp600 juta, apakah waktu teken kontrak langsung dibayar Rp600 juta,” katanya.
Starki memastikan keluarga Rendi tidak pernah menerima transfer Rp600 juta. Menurutnya, Rendi beberapa kali mengirim uang kepada keluarga dengan nominal sekitar Rp50 juta dan Rp20 juta.
Uang tersebut disebut digunakan untuk kebutuhan orang tua Rendi, termasuk persiapan menjalankan ibadah umrah.
“Sampai hari ini saya berani nyatakan bahwa itu hanya isu. Kebenarannya pun belum kita pastikan satu-satu,” ujarnya.
Hingga kini, pihak keluarga dan Starki juga belum mengetahui nama perusahaan atau pihak yang mempekerjakan Rendi selama berada di Rusia.
“Orang tuanya pun tidak tahu. Si Rendi pun tidak pernah bercerita dia kerja di perusahaan mana. Tahunya dia hanya berada di negara ini,” katanya.
Starki menambahkan, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) disebut telah melakukan penelusuran terkait keberadaan dan keberangkatan Rendi.
Penelusuran tersebut dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pihak yang merekrut warga Natuna untuk bekerja di luar negeri.
“Takutnya ada yang merekrut dari Natuna. Sejauh ini tidak ada,” ujarnya.
Menurut Starki, berdasarkan informasi sementara, Rendi diduga memperoleh informasi mengenai pekerjaan tersebut ketika masih berada di Filipina.
“Dugaan keluarga Rendi direkrutnya dari Filipina,” ujarnya.






