Metapos.id, Jakarta – Korps Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyerukan kepada warga di sejumlah negara Arab untuk memberikan informasi terkait keberadaan pasukan militer Amerika Serikat yang ditempatkan di berbagai wilayah Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut sekitar 11 ribu tentara dari United States Armed Forces berada di sejumlah negara di kawasan tersebut. Sebagian dari mereka dilaporkan tinggal di hotel maupun penginapan pribadi.
Mengutip kantor berita yang berbasis di Teheran, West Asia News Agency (WANA), pada Jumat (13/3), IRGC juga meminta warga di negara-negara Arab untuk tidak menyediakan tempat tinggal bagi pasukan AS. Selain itu, masyarakat diminta melaporkan setiap informasi mengenai keberadaan mereka.
Dalam pernyataan yang sama, IRGC menuduh Amerika Serikat berupaya menjadikan warga di kawasan Arab sebagai apa yang mereka sebut sebagai “perisai manusia”. IRGC juga mengimbau masyarakat agar menjauhi lokasi tempat tinggal pasukan AS karena mereka dinilai berpotensi menjadi target serangan.
IRGC turut meminta masyarakat mengirimkan informasi terkait lokasi pasukan AS melalui aplikasi pesan Telegram.
Sementara itu, Markas Besar Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon mengonfirmasi enam tentara AS tewas dalam konflik dengan Iran. Militer AS menyatakan para korban tewas setelah sebuah drone berhasil menembus pertahanan udara dan menghantam pusat komando di Port Shuaiba, Kuwait, pada Minggu pekan lalu.
Komando Pusat Amerika Serikat atau United States Central Command (CENTCOM) sebelumnya melaporkan tiga tentara tewas dalam serangan tersebut. Namun jumlah korban kemudian meningkat setelah satu prajurit meninggal akibat luka-luka yang dideritanya, sementara dua jenazah lainnya ditemukan di reruntuhan.
Enam tentara yang telah diidentifikasi oleh Pentagon tersebut merupakan anggota Army Reserve atau Cadangan Angkatan Darat AS yang bertugas memberikan dukungan logistik bagi operasi militer Amerika Serikat.
“Mereka semua dengan berani menjadi sukarelawan untuk membela negara kita, dan pengorbanan mereka tidak akan pernah dilupakan,” ujar Menteri Angkatan Darat AS, Daniel Driscoll, dalam pernyataan resminya, seperti dilaporkan oleh BBC pada 5 Maret.














