Metapos.id, Jakarta — Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan bahwa aspek keselamatan dan kesejahteraan prajurit menjadi perhatian utama pemerintah dalam rencana pengiriman sekitar 8.000 personel TNI ke Gaza untuk bergabung dalam Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF).
Menurut Sugiono, tanggung jawab Indonesia dalam menjaga keamanan pasukan semakin besar seiring peran strategis yang diemban dalam struktur kepemimpinan ISF serta keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace. Posisi Indonesia sebagai Wakil Komandan Operasi dinilai memperkuat komitmen negara dalam menjamin perlindungan personel yang bertugas.
Ia juga menekankan bahwa setiap operasi militer memiliki potensi risiko. Karena itu, pemerintah telah menetapkan batasan nasional (national caveats) secara tegas, termasuk larangan keterlibatan pasukan Indonesia dalam operasi tempur ofensif. Prajurit hanya diperkenankan melakukan tindakan defensif jika menghadapi ancaman langsung, dengan berlandaskan mandat yang jelas serta aturan pelibatan (rule of engagement) yang ketat.
Dalam aspek kesejahteraan, Sugiono memastikan bahwa TNI telah memiliki sistem dan standar operasional tersendiri yang akan diterapkan kepada seluruh personel yang menjalankan tugas sebagai pasukan penjaga perdamaian.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia mengirim pasukan ke Gaza setelah resmi bergabung dalam ISF. Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Board of Peace bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington DC.
Prabowo menyebutkan bahwa jumlah personel yang dikirim dapat mencapai 8.000 prajurit atau lebih, menyesuaikan kebutuhan misi. Ia juga memperkirakan bahwa pengiriman gelombang awal pasukan dapat direalisasikan dalam waktu satu hingga dua bulan ke depan sebagai bagian dari misi perdamaian internasional di Gaza.












