Metapos.id, Jakarta – Penetapan awal bulan Ramadan selalu diawali dengan pengamatan hilal. Bagi umat Islam, hilal memiliki peran penting sebagai penanda dimulainya ibadah puasa sekaligus pergantian bulan dalam kalender Hijriah. Perbedaan sistem penanggalan Islam dengan kalender Masehi menjadikan hilal sebagai acuan utama dalam menentukan awal Ramadan maupun Idulfitri.
Pengertian Hilal Ramadan
Secara bahasa, hilal berasal dari bahasa Arab yang berarti bulan sabit. Dalam kajian astronomi, hilal merujuk pada bulan sabit muda yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak atau fase bulan baru. Pada fase ini, usia bulan masih sangat muda, sehingga bentuknya tampak sangat tipis dan samar.
Hilal memiliki karakteristik yang berbeda dengan bulan sabit yang biasa terlihat di langit malam. Secara visual, hilal tampak lebih tipis, posisinya khas, dan hanya dapat muncul pada waktu tertentu.
Dalam siklus fase bulan, hilal berada setelah fase bulan baru, kemudian disusul kuartal pertama, bulan purnama, hingga bulan tua.
Meski sekilas tampak serupa, hilal tidak dapat disamakan dengan bulan tua. Perbedaannya terletak pada waktu dan posisinya. Hilal muncul setelah matahari terbenam, sedangkan bulan tua justru terlihat menjelang terjadinya fase bulan baru.
Kriteria Hilal
Tidak semua bulan sabit tipis dapat dikategorikan sebagai hilal. Suatu bulan sabit baru disebut hilal apabila dapat diamati saat matahari terbenam dan berada di atas cakrawala dengan ketinggian tertentu.
Secara umum, hilal dinyatakan memenuhi syarat apabila posisinya berada lebih dari 3 derajat di atas ufuk. Pada ketinggian di bawah itu, cahaya bulan masih kalah kuat dibandingkan cahaya senja (syafaq), sehingga sulit terlihat secara jelas.
Adapun bulan sabit yang tampak di pagi atau siang hari bukan termasuk hilal, melainkan bagian dari fase bulan tua sebelum terjadinya bulan baru.
Waktu Kemunculan Hilal
Hilal hanya dapat terlihat dalam waktu yang sangat terbatas, biasanya sesaat setelah matahari terbenam. Durasi kemunculannya relatif singkat, sekitar 15 menit hingga kurang dari satu jam sebelum akhirnya ikut tenggelam di balik cakrawala.
Dalam sistem kalender Hijriah, pengamatan hilal dilakukan pada hari ke-29 setiap bulan. Jika hilal berhasil terlihat, maka keesokan harinya langsung ditetapkan sebagai awal bulan baru. Namun, jika tidak terlihat, maka bulan berjalan disempurnakan menjadi 30 hari.
Mekanisme inilah yang menjadi dasar utama penentuan awal Ramadan dan Hari Raya Idulfitri.
Cara Mengamati Hilal
Proses pengamatan hilal bukan perkara mudah. Selain bentuknya yang sangat tipis, waktu kemunculannya pun sangat singkat.
Karena itu, pengamatan biasanya dilakukan oleh pihak berwenang dengan bantuan peralatan optik seperti teleskop dan instrumen astronomi lainnya.
Selain alat, pengamatan hilal juga membutuhkan keahlian khusus, perhitungan astronomi yang akurat, serta pemilihan lokasi yang strategis agar hasil observasi dapat dijadikan dasar yang sah dalam penetapan awal bulan Hijriah.













