Metapos.id, Jakarta – Pemerintah menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi selaras dengan kondisi global. Penyesuaian ini dipicu lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyatakan kebijakan tersebut merupakan respons pasar. Harga BBM mengikuti dinamika harga minyak dan nilai tukar.
Menurutnya, negara-negara lain juga telah lebih dulu menaikkan harga bahan bakar. Bahkan, kenaikan di beberapa negara disebut lebih tinggi.
Pemerintah menegaskan bahwa penentuan harga dilakukan secara transparan. Selain itu, harga juga dijaga agar tetap kompetitif tanpa menimbulkan distorsi pasar.
Meski terjadi kenaikan, pemerintah memastikan BBM subsidi tidak berubah. Harga Pertalite dan solar subsidi tetap dipertahankan.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat. Terutama bagi kelompok rentan yang bergantung pada BBM subsidi.
Pemerintah juga berkomitmen menjaga stabilitas harga hingga akhir 2026. Upaya ini menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Sementara itu, PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga beberapa BBM nonsubsidi. Kenaikan berlaku sejak Sabtu (18/4/2026).
Harga Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.400 per liter. Dexlite menjadi Rp23.600 per liter dan Pertamina Dex Rp23.900 per liter.
Adapun harga BBM lain tidak mengalami perubahan. Pertamax tetap Rp12.300 per liter, sementara Pertalite Rp10.000 dan Biosolar Rp6.800 per liter.






