Metapos.id, Jakarta – Bambang Soesatyo meminta Indonesia tetap waspada terhadap konflik Iran dan Israel. Meski demikian, gencatan senjata belum menjamin situasi akan stabil dalam waktu dekat.
Ia menilai, gencatan senjata tidak berarti konflik telah selesai.
Sebaliknya, momen ini sering dimanfaatkan untuk menyusun strategi baru.
Selain itu, pihak-pihak yang terlibat menggunakan waktu tersebut untuk memperkuat logistik. Mereka juga menyiapkan langkah lanjutan secara lebih terencana.
Di sisi lain, ketegangan di kawasan Timur Tengah sejak awal 2026 mulai berdampak luas. Dampak utamanya terlihat pada sektor energi global.
Sebagai gambaran, distribusi minyak melalui Selat Hormuz sempat terganggu. Padahal, jalur ini menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia.
Akibatnya, harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan. Risiko dalam distribusi energi juga meningkat.
Sementara itu, efek konflik turut merambah sektor ekonomi. Nilai tukar berbagai mata uang menjadi tidak stabil.
Selain itu, tekanan inflasi meningkat di sejumlah negara. Biaya logistik dan asuransi perdagangan internasional juga ikut naik.
Karena itu, Indonesia ikut merasakan dampaknya. Salah satunya terlihat dari tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Lebih lanjut, Bamsoet menilai fase gencatan senjata merupakan periode penting. Pada tahap ini, setiap pihak bersiap untuk langkah berikutnya.
Ia juga menyoroti aktivitas diplomasi yang terlihat di publik. Namun, di balik itu, terdapat strategi lain yang berjalan secara bersamaan.
Bahkan, pihak terkait tetap memperkuat kekuatan militer dan ekonomi. Mereka juga memperluas pengaruh politik di tingkat global.
Selain itu, gencatan senjata sering digunakan untuk membangun citra positif. Salah satu pihak dapat terlihat sebagai pembawa perdamaian.
Namun demikian, mereka tetap memperkuat posisi tawar. Hal ini penting dalam proses negosiasi selanjutnya.
Oleh sebab itu, Indonesia perlu meningkatkan kesiapan di berbagai sektor. Pemerintah harus menjaga ketahanan energi nasional.
Selain itu, cadangan strategis perlu diperkuat. Antisipasi terhadap gangguan rantai pasok juga menjadi hal penting.
Di sisi lain, Indonesia harus tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Diplomasi damai tetap harus diutamakan.
Meski demikian, kewaspadaan terhadap dinamika global tidak boleh berkurang.













