Metapos.id, Jakarta – Fenomena therian kembali menjadi perbincangan setelah video sejumlah remaja yang bertingkah layaknya anjing dan kucing viral di media sosial. Mereka mengenakan topeng, ekor, hingga bergerak menggunakan empat kaki sebagai bentuk ekspresi diri yang menarik perhatian publik.
Therian merupakan istilah bagi individu yang merasa memiliki hubungan identitas dengan hewan secara psikologis, spiritual, atau simbolis. Meski demikian, sebagian pelaku mengaku tetap menjalani kehidupan sehari-hari seperti remaja pada umumnya dan hanya menampilkan perilaku tersebut pada waktu tertentu.
Fenomena ini berkembang pesat di media sosial, terutama TikTok, yang menjadi tempat para therian berbagi pengalaman dan membentuk komunitas. Di beberapa negara seperti Argentina, pertemuan komunitas therian bahkan mulai rutin digelar di ruang publik.
Tidak semua orang yang memakai topeng atau bergerak seperti hewan mengaku sebagai therian. Sebagian hanya mengikuti tren atau tergabung dalam kelompok “otherpaw”, yaitu orang yang mengenakan atribut hewan semata untuk hiburan tanpa merasa memiliki identitas sebagai hewan.
Para psikolog menjelaskan bahwa therian pada dasarnya merupakan bentuk identifikasi simbolis terhadap hewan. Kondisi tersebut belum tentu menjadi gangguan psikologis selama tidak mengganggu aktivitas sehari-hari maupun membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Para ahli mengingatkan bahwa kondisi tersebut perlu mendapat perhatian apabila seseorang benar-benar meyakini dirinya sebagai hewan hingga kehilangan kemampuan menjalankan peran sebagai manusia. Dalam situasi seperti itu, evaluasi oleh tenaga profesional dapat membantu memahami kondisi psikologis yang dialami.
Meningkatnya popularitas therian juga menunjukkan besarnya pengaruh media sosial dalam membentuk tren dan komunitas baru di kalangan remaja. Platform digital memungkinkan mereka menemukan orang-orang dengan minat serupa, sekaligus memperluas penyebaran fenomena tersebut ke berbagai negara.
Meski menuai beragam respons dari masyarakat, para pakar mengimbau agar fenomena therian dipahami secara objektif dan tidak langsung diberi stigma negatif. Pendekatan yang mengutamakan edukasi serta kesehatan mental dinilai lebih penting dibanding sekadar menghakimi tren yang sedang berkembang di kalangan remaja.







