Metapos.id, Jakarta – Kabar Paus Leo XIV didiagnosis kanker paru-paru kembali menyoroti riwayat kesehatan sejumlah pemimpin Gereja Katolik yang pernah menghadapi penyakit serius selama masa kepausan mereka.
Vatikan mengonfirmasi bahwa Paus Leo XIV mengalami adenokarsinoma paru-paru setelah menjalani operasi di Rumah Sakit Gemelli, Roma, Italia, pada Selasa (13/10/2026).
Dalam prosedur tersebut, tim medis mengangkat lobus bawah paru-paru kanan Paus yang berusia 71 tahun itu melalui operasi yang berlangsung sekitar 90 menit dan dinyatakan berhasil tanpa komplikasi.
Pemeriksaan jaringan selama operasi mengonfirmasi diagnosis kanker yang sebelumnya dicurigai berdasarkan hasil pemeriksaan praoperasi, sementara pemeriksaan lanjutan masih diperlukan untuk menentukan langkah perawatan berikutnya.
Kondisi tersebut mengingatkan publik pada sejumlah Paus terdahulu yang tetap menjalankan tugas kepemimpinan Gereja Katolik meskipun menghadapi persoalan kesehatan.
Paus Yohanes Paulus II, misalnya, diketahui menderita penyakit Parkinson yang memengaruhi kemampuan gerak dan kondisi fisiknya pada tahun-tahun terakhir masa kepausannya.
Sementara itu, Paus Yohanes XXIII pernah didiagnosis menderita kanker lambung sebelum meninggal dunia pada 1963.
Riwayat kesehatan para Paus juga berkaitan dengan pertanyaan mengenai kelanjutan kepemimpinan ketika kondisi fisik tidak lagi memungkinkan seseorang menjalankan tugasnya secara optimal.
Paus Benediktus XVI menjadi contoh penting ketika memilih mengundurkan diri pada 2013, dengan alasan usia lanjut dan berkurangnya kekuatan fisik serta mental untuk menjalankan tanggung jawab kepausan.
Dalam tradisi Gereja Katolik, jabatan Paus umumnya berlangsung hingga pemegangnya meninggal dunia, tetapi hukum Gereja memperbolehkan pengunduran diri apabila dilakukan secara bebas dan diumumkan secara semestinya.
Adapun kondisi kesehatan Paus Leo XIV saat ini masih menjadi perhatian, terutama karena ia dijadwalkan menjalani pemulihan setelah operasi dan seluruh agenda audiensi publiknya telah dibatalkan hingga 20 Oktober 2026.
Rencana perjalanan ke Amerika Selatan pada 6–17 November mendatang juga akan bergantung pada perkembangan pemulihan serta rekomendasi tim medis.
Kasus ini menunjukkan bahwa kesehatan pemimpin Gereja Katolik tidak hanya berkaitan dengan kondisi pribadi, tetapi juga dapat memengaruhi agenda pastoral, diplomasi, dan aktivitas resmi Vatikan.







