Metapos.id, Jakarta – Budidaya kroto atau telur semut rangrang dapat menjadi salah satu pilihan usaha rumahan yang tidak membutuhkan lahan luas. Dengan memanfaatkan toples sebagai media, kegiatan ini bisa dilakukan dalam skala kecil dengan modal yang relatif terjangkau.
Kroto banyak dimanfaatkan sebagai pakan burung kicau dan umpan untuk memancing. Tingginya kebutuhan dari para penghobi membuat hasil budidaya semut rangrang memiliki nilai jual yang cukup menarik.
Harga kroto di pasaran dapat berada di kisaran Rp100.000 hingga Rp200.000 per kilogram, tergantung kondisi dan wilayah pemasaran. Karena itu, budidaya skala rumahan dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin mencoba usaha sampingan.
Berikut sejumlah tahapan yang perlu diperhatikan bagi pemula yang ingin memulai budidaya kroto menggunakan toples.
1. Siapkan Toples dan Rak
Tahap pertama adalah menyediakan toples plastik transparan berukuran sedang sebagai tempat koloni. Bagian bawah toples dapat dibuat lubang berdiameter sekitar 5 hingga 7 sentimeter, kemudian ditutup menggunakan lakban hitam untuk menciptakan suasana gelap seperti habitat alami.
Toples kemudian ditempatkan pada rak bertingkat agar penggunaan ruang lebih efisien. Area budidaya sebaiknya memiliki sirkulasi udara yang baik dan tidak terlalu ramai.
Untuk mencegah semut keluar dari area pemeliharaan, kaki rak dapat ditempatkan pada wadah berisi air. Lokasi budidaya juga perlu dijauhkan dari dinding maupun benda lain yang bisa menjadi jalur semut atau predator.
Suhu ruangan sekitar 26 derajat Celsius dengan kelembapan 60 hingga 70 persen disebut sebagai kondisi yang dapat mendukung pemeliharaan koloni.
2. Pilih Koloni yang Sehat
Keberhasilan budidaya sangat bergantung pada kondisi koloni yang digunakan sebagai bibit. Bibit dapat diperoleh dari alam maupun dibeli dari peternak kroto.
Koloni yang digunakan sebaiknya memiliki susunan lengkap, termasuk ratu, semut pekerja, prajurit, dan pejantan. Keberadaan ratu sangat penting karena berperan dalam proses produksi telur.
Setelah koloni diperoleh, bibit dapat ditempatkan di dekat toples yang telah disiapkan. Biarkan semut berpindah sendiri agar proses adaptasi berlangsung secara bertahap.
3. Perhatikan Pemberian Pakan
Semut rangrang membutuhkan asupan protein dan karbohidrat untuk menunjang aktivitas serta perkembangan koloni. Sumber protein dapat berasal dari serangga seperti jangkrik, belalang, ulat, maupun bahan makanan tertentu.
Pakan diberikan secara berkala dan disesuaikan dengan kebutuhan koloni. Sisa makanan yang tidak dikonsumsi sebaiknya segera dibersihkan agar tidak menimbulkan bau atau mengundang hama.
Untuk memenuhi kebutuhan energi, semut rangrang juga dapat diberikan cairan manis. Larutan gula atau madu bisa ditempatkan dalam wadah kecil di sekitar area rak.
4. Jaga Kebersihan dan Hindari Predator
Perawatan rutin diperlukan untuk menjaga kondisi koloni tetap stabil. Area sekitar rak perlu dibersihkan secara berkala, sementara sisa makanan harus segera dibuang.
Wadah berisi air di kaki rak juga harus diperiksa agar tetap berfungsi sebagai penghalang semut keluar dari area budidaya.
Lokasi pemeliharaan sebaiknya terlindung dari hujan langsung dan memiliki ventilasi yang memadai. Predator seperti cicak dan tokek juga perlu diantisipasi karena dapat mengganggu bahkan memangsa koloni.
5. Tentukan Waktu Panen
Kroto membutuhkan waktu tertentu untuk berkembang dari telur hingga menjadi larva. Siklus tersebut umumnya berlangsung sekitar 15 hingga 20 hari.
Namun, bagi peternak yang baru memulai, koloni sebaiknya diberi waktu untuk berkembang terlebih dahulu sebelum dilakukan panen secara rutin. Masa pengembangan koloni dapat berlangsung beberapa bulan hingga jumlah semut cukup stabil.
Setelah koloni berkembang dengan baik, panen dapat dilakukan secara berkala. Kroto dipisahkan dari semut induknya, kemudian koloni beserta ratunya dikembalikan ke media agar dapat melanjutkan siklus produksi.
Dalam skala rumahan, hasil panen dari setiap toples dapat berbeda-beda. Produksi dipengaruhi jumlah semut, kondisi ratu, kesehatan koloni, serta pola pemberian pakan dan perawatan.
Hasil kroto yang telah dipanen dapat dipasarkan kepada penghobi burung kicau, toko pakan, pemancing, maupun melalui platform media sosial.






