Metapos.id, Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkuat literasi investor pasar modal melalui penyelenggaraan Ring the Bell for Financial Literacy 2026 di Main Hall BEI, Jakarta, Rabu (14/10). Kegiatan yang mengusung tema “Stay Smart. Stay Alert. Stay Resilient.” ini menjadi bagian dari peringatan World Investor Week (WIW) dan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai investasi serta kewaspadaan terhadap penipuan.
World Investor Week merupakan kampanye global tahunan yang dipromosikan oleh International Organization of Securities Commissions (IOSCO) untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya edukasi dan pelindungan investor. Pada 2026, kampanye ini mengangkat tiga tema utama, yaitu Investor Resilience, Digital Deception, dan Scam Alert, yang semakin relevan seiring berkembangnya investasi berbasis digital.
Kemudahan akses investasi melalui platform digital membuka peluang bagi masyarakat untuk berpartisipasi di pasar modal. Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan risiko baru, termasuk penipuan digital dan penyalahgunaan informasi, sehingga investor perlu memahami cara memverifikasi legalitas serta keamanan produk dan pihak yang menawarkan investasi.
Sebagai bagian dari kampanye global tersebut, World Federation of Exchanges (WFE) untuk kedelapan kalinya menyelenggarakan Ring the Bell for Financial Literacy. Pada tahun ini, sebanyak 62 bursa dari berbagai negara berpartisipasi melalui seremoni pembukaan perdagangan dan rangkaian kegiatan edukasi sepanjang Oktober 2026.
Kegiatan BEI diawali dengan sambutan Direktur BEI Umi Kulsum, dilanjutkan dengan keynote speech Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Edi Broto Suwarno. Acara kemudian diisi dengan seremoni Ring the Bell for Financial Literacy dan diskusi yang menghadirkan perencana keuangan Prita Ghozie, komika Yudha Keling, serta kreator konten Theresa Tjandrawinata, dengan moderator Market Development Specialist BEI Marco Kawet.
Diskusi tersebut membahas langkah praktis untuk menjadi investor yang cerdas dan bertanggung jawab. Peserta diajak memahami karakteristik dan risiko produk investasi, memastikan legalitas pihak yang menawarkan investasi, memverifikasi informasi sebelum mengambil keputusan, serta menjaga kerahasiaan data pribadi dan akses akun.
Selain itu, investor perlu mengenali ciri-ciri penipuan digital dan mengelola emosi ketika menghadapi volatilitas pasar. Pemahaman terhadap risiko serta kedisiplinan dalam mengambil keputusan menjadi bagian penting agar investasi tetap sesuai dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing.
Sekitar 400 peserta mengikuti kegiatan tersebut, mulai dari calon investor, investor pasar modal, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Untuk memperluas jangkauan edukasi, seluruh rangkaian acara juga disiarkan melalui kanal YouTube Indonesia Stock Exchange.
Direktur BEI Umi Kulsum menegaskan bahwa pertumbuhan jumlah investor perlu diimbangi dengan peningkatan pemahaman dan ketahanan dalam menghadapi risiko investasi. Menurutnya, investor tidak cukup hanya mengetahui cara membeli produk, tetapi juga harus memahami manfaat, risiko, serta keamanan informasi yang digunakan dalam transaksi.
“Pertumbuhan jumlah investor harus berjalan seiring dengan peningkatan pemahaman dan ketahanan investor. Investor yang cerdas tidak hanya mengetahui cara membeli produk investasi, tetapi juga memahami manfaat dan risikonya; investor yang waspada selalu memverifikasi informasi dan menjaga keamanan datanya; sedangkan investor yang tangguh tetap disiplin serta tidak mengambil keputusan secara impulsif ketika pasar berfluktuasi,” ujar Umi.
Ia menambahkan bahwa perluasan akses masyarakat ke pasar modal harus disertai kemampuan mengambil keputusan investasi secara legal, logis, dan sesuai dengan tujuan serta profil risiko masing-masing. Edukasi berkelanjutan dinilai penting untuk mendukung partisipasi masyarakat yang lebih berkualitas.
Pentingnya literasi investor pasar modal juga terlihat dari pertumbuhan jumlah investor di Indonesia. Hingga 8 Oktober 2026, jumlah investor telah mencapai lebih dari 32 juta Single Investor Identification (SID), sedangkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per akhir September 2026 menunjukkan bahwa 53,41% investor individu berusia 30 tahun ke bawah.
Data tersebut mencerminkan semakin luasnya partisipasi masyarakat, termasuk kelompok usia muda, dalam pasar modal Indonesia. Kondisi ini sekaligus menegaskan perlunya edukasi yang berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan berbagai kelompok investor agar mereka mampu memahami risiko dan menghindari praktik investasi ilegal.
Melalui Ring the Bell for Financial Literacy 2026, BEI mendorong penguatan pemahaman investor sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengambilan keputusan investasi. Investor yang cerdas, waspada, dan tangguh diharapkan dapat mendukung terwujudnya pasar modal Indonesia yang inklusif, kredibel, dan berkelanjutan.







