Metapos.id, Jakarta — Bangun tidur dengan kondisi mulut kering dan tenggorokan terasa haus sering kali dianggap sebagai hal biasa. Kondisi ini dapat terjadi karena tubuh tidak menerima cairan selama seseorang terlelap sepanjang malam.
Meski demikian, rasa haus yang kerap berulang meskipun kebutuhan air sudah tercukupi perlu mendapat perhatian. Selain dipengaruhi oleh kurangnya cairan, keluhan tersebut juga bisa berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu, termasuk kadar gula darah yang tinggi.
Ahli gizi Rachael Ajmera, M.S., RD, menerangkan bahwa dehidrasi dapat menyebabkan konsentrasi glukosa dalam darah meningkat. Hal ini terjadi karena berkurangnya jumlah air dalam aliran darah membuat gula menjadi lebih terkonsentrasi.
“Ketika Anda mengalami dehidrasi, jumlah air dalam aliran darah berkurang sehingga glukosa atau gula bisa menjadi lebih terkonsentrasi,” jelas Ajmera, disadur dari EatingWell.
Selama tidur, tubuh tidak memperoleh cairan tambahan dalam waktu beberapa jam. Kondisi tersebut memungkinkan terjadinya dehidrasi ringan saat seseorang bangun pada pagi hari.
Bagi orang yang menderita diabetes, kecukupan cairan menjadi hal yang perlu diperhatikan. Sebab, dehidrasi dapat memengaruhi kadar gula darah. Namun, rasa haus tidak serta-merta menunjukkan bahwa seseorang mengalami hiperglikemia atau kadar gula darah tinggi.
Memenuhi kebutuhan air putih setelah bangun tidur dapat membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh. Kendati demikian, konsumsi air saja tidak cukup untuk menangani kadar gula darah yang tinggi dan tidak menggantikan pengobatan yang diperlukan.
Pentingnya menjaga asupan cairan juga disampaikan ahli gizi Amanda Roll, M.S., RDN. Menurutnya, tubuh membutuhkan cairan yang cukup untuk mendukung pengaturan kadar gula darah.
“Menjaga kecukupan cairan membantu tubuh mengatur kadar gula darah,” kata Roll.
Kadar Gula Darah Tinggi Dapat Memengaruhi Fungsi Ginjal
Rasa haus berlebihan juga dapat berkaitan dengan cara ginjal merespons peningkatan gula darah. Ginjal berfungsi menyaring darah sekaligus mengeluarkan zat sisa metabolisme melalui urine.
Saat kadar gula darah terlalu tinggi, ginjal berupaya mengeluarkan kelebihan glukosa melalui urine. Dalam proses tersebut, lebih banyak cairan turut terbuang dari tubuh.
“Ketika kadar gula darah Anda tinggi, ginjal membuang kelebihan glukosa melalui urine,” ujar Ajmera.
Akibatnya, frekuensi buang air kecil dapat meningkat dan tubuh kehilangan cairan lebih banyak dari biasanya. Apabila cairan yang hilang tidak segera tergantikan, risiko dehidrasi pun bertambah dan rasa haus dapat semakin kuat.
Keluhan ini bisa terasa ketika seseorang bangun tidur, terutama jika kadar gula darah tetap tinggi dan tubuh mengalami kekurangan cairan.
Oleh karena itu, rasa haus yang terus-menerus, terlebih jika disertai peningkatan frekuensi buang air kecil, sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai.







