Metapos.id, Jakarta – Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam sejak 4 September 2026 hingga berakhir pada 6 September 2026.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan aktivitas kemudian kembali berupa erupsi strombolian yang menjadi karakteristik Gunung Anak Krakatau saat ini.
Aktivitas tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan erupsi Anak Krakatau berkaitan dengan ancaman gempa megathrust Selat Sunda.
Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) menjelaskan bahwa gempa vulkanik dan gempa tektonik merupakan dua fenomena berbeda dengan mekanisme yang tidak sama.
“Mengenai hubungan keduanya, gempa vulkanik pada dasarnya tidak memiliki energi yang cukup besar untuk memicu terjadinya gempa tektonik karena cakupan tekanannya hanya bersifat lokal,” kata Daryono, dikutip dari berbagai sumber, Senin (07/09/2026).
Sebaliknya, gempa tektonik berkekuatan besar justru dapat memicu aktivitas gunung api yang sudah berada dalam kondisi aktif.
“Sebaliknya, gempa tektonik berskala besar sangat memungkinkan untuk memicu erupsi gunung api. Dengan syarat utama gunung tersebut memang sudah berada dalam status aktif dan kantong magmanya terisi penuh, sehingga guncangan yang terjadi dapat membongkar sumbatan magma atau memicu pelepasan gas,” tambah Daryono.
Gunung Anak Krakatau berada di Selat Sunda yang berdekatan dengan zona pertransisian antara Subduksi Sumatra dan Megathrust Jawa.
“Posisi Gunung Anak Krakatau memang berada di dalam zona rentan yang terpengaruh oleh tatanan tektonik regional tersebut. Oleh karena itu, jika terjadi guncangan hebat dari gempa tektonik di zona megathrust Selat Sunda, peristiwa tersebut berpotensi menjadi pemicu bergeraknya magma dan mempercepat erupsi Gunung Anak Krakatau apabila gunung tersebut sedang aktif,” papar Daryono.
Namun, hubungan tersebut hanya berlaku satu arah sehingga aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak dianggap mampu memicu gempa utama di zona megathrust Selat Sunda.
“Namun, hubungan pemicu ini bekerja satu arah. Sehingga, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak akan mampu memicu runtuhnya atau terjadinya gempa tektonik utama di Zona Megathrust Selat Sunda,” tegas Daryono.
Sementara itu, PVMBG mencatat pada periode 6-7 September 2026 terjadi erupsi strombolian dengan kolom erupsi hitam setinggi maksimum 300 meter di atas puncak.
Pemantauan instrumental juga merekam tiga kali gempa erupsi, sembilan kali gempa hembusan, 93 kali gempa frekuensi rendah, serta 98 kali gempa hybrid atau fase banyak.
“Berakhirnya erupsi menerus dan kembalinya pola erupsi strombolian untuk sementara diinterpretasikan sebagai berakhirnya satu episode erupsi menerus. Namun, dinamika aktivitas vulkanik masih tinggi dan kemungkinan terjadinya erupsi kembali dalam waktu dekat masih tetap ada,” tegas PVMBG.
Saat ini status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga, dengan potensi bahaya berupa lontaran batu pijar, hujan abu lebat, awan panas, serta aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi.
“Masyarakat, wisatawan, dan pelaku pelayaran tidak diperbolehkan memasuki radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.”
PVMBG juga menegaskan aktivitas erupsi saat ini tidak memicu tsunami sehingga masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung diimbau tetap tenang serta mengikuti informasi resmi.







