Metapos.id, Jakarta — Pemerintah Iran menyampaikan peringatan kepada masyarakat dengan menayangkan panduan menghadapi potensi serangan nuklir melalui televisi nasional pada Selasa (3/11/2026). Langkah ini muncul saat hubungan Teheran dan Washington kembali memanas akibat ancaman serangan militer Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan Al Arabiya, materi yang disiarkan pemerintah Iran memuat prosedur penyelamatan diri apabila terjadi ledakan nuklir. Salah satu pesan utamanya adalah menghindari kontak mata langsung dengan kilatan ledakan dan segera mencari perlindungan ketika berada di area terbuka.
Bagi warga yang tidak sempat memasuki gedung, otoritas menyarankan untuk mencari perlindungan di balik benda penghalang. Alternatif lainnya adalah merunduk atau merebahkan tubuh serendah mungkin sambil menutupi bagian kepala dan wajah.
Ketika ledakan sudah terjadi, masyarakat diminta segera masuk ke bangunan terdekat. Warga juga diperingatkan agar tidak keluar rumah untuk melihat kondisi sekitar maupun mengabadikan kejadian tersebut.
Pemerintah merekomendasikan ruang bawah tanah atau bagian tengah bangunan sebagai lokasi perlindungan. Area tersebut dinilai lebih jauh dari jendela dan dinding luar. Selain itu, seluruh pintu dan jendela perlu ditutup serta pendingin ruangan yang memasukkan udara dari luar harus dinonaktifkan.
Perhatian khusus juga diberikan terhadap risiko paparan material radioaktif. Masyarakat yang berada di sekitar lokasi ledakan dianjurkan segera melepaskan pakaian yang dikenakan, kemudian menyimpannya dalam kantong atau wadah tertutup tanpa mengibaskannya.
Bagian tubuh yang terpapar harus dibersihkan menggunakan air dan sabun. Apabila rambut terkena paparan, warga dianjurkan menggunakan sampo. Jika tidak tersedia fasilitas untuk mandi, pembersihan dapat dilakukan dengan air atau tisu basah.
Dalam panduan tersebut, pemerintah turut meminta masyarakat menyiapkan kebutuhan darurat berupa air minum dan makanan dalam kemasan. Warga dianjurkan bertahan di dalam bangunan selama minimal 24 jam serta tidak mengambil keputusan evakuasi tanpa memperhatikan petunjuk resmi dari otoritas setempat.
Peringatan keselamatan ini disampaikan ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengisyaratkan kemungkinan operasi militer terhadap Iran. Salah satu lokasi yang disebut masuk dalam pertimbangan Washington adalah Gunung Pickaxe, yang diduga menjadi tempat penyimpanan komponen program nuklir Teheran.
Sejumlah media Amerika Serikat juga melaporkan kemungkinan Washington mengerahkan Mother of All Bombs (MOAB), bom konvensional non-nuklir dengan daya ledak terbesar dalam persenjataan militer AS.
Laporan tersebut turut menyebut kemungkinan serangan dilaksanakan setelah pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026. Meski demikian, perkembangan rencana tersebut masih menjadi bagian dari laporan mengenai potensi eskalasi konflik kedua negara.






