Metapos.id, Jakarta – Iran mengajukan tujuh syarat yang harus dipenuhi Amerika Serikat sebelum bersedia membuka kembali Selat Hormuz dan kembali ke meja perundingan damai.
Dilansir dari berbagai sumber persyaratan tersebut diungkapkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam percakapan pada Sabtu (31/10). Sebelumnya, kepala keamanan Iran Mohsen Rezaei menyatakan negaranya tidak akan kembali berunding sebelum seluruh tuntutan dipenuhi, Senin (02/11/2026).
Berikut tujuh syarat Iran untuk kembali berunding dengan Amerika Serikat:
1. Mencabut sanksi terhadap Iran
Iran meminta Amerika Serikat mencabut sanksi yang dijatuhkan setelah nota kesepahaman atau MoU Islamabad gagal pada Juli.
2. Mengurangi kehadiran militer AS di Timur Tengah
Teheran juga menuntut Washington mengurangi kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.
3. Mengaktifkan kembali pengecualian impor minyak
Iran meminta pengecualian impor minyak yang diberikan pada Juni sebagai bagian dari MoU kembali diberlakukan.
4. Membebaskan dana Iran yang dibekukan
Tuntutan berikutnya adalah pembebasan dana Iran yang selama ini dibekukan, termasuk dana yang disimpan di Qatar.
5. Mengakui rute pelayaran baru di Selat Hormuz
Iran meminta AS secara resmi mengakui rute pelayaran baru di Selat Hormuz yang ditetapkan oleh Iran dan Oman, serta menutup seluruh rute lainnya.
6. Mengakhiri perang di seluruh front
Teheran menuntut penghentian konflik di seluruh wilayah, terutama serangan Israel terhadap Lebanon.
7. Menghentikan blokade dan tidak mencampuri urusan Iran
Iran meminta penghentian blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta menuntut Washington tidak lagi mencampuri urusan dalam negeri negara tersebut.
Rezaei menegaskan Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz maupun kembali ke meja perundingan sebelum tujuh syarat tersebut dipenuhi.
Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel meningkat setelah konflik yang dimulai pada 28 Februari. Konflik tersebut membuat Selat Hormuz tertutup secara efektif dan berdampak pada salah satu jalur utama pasokan energi global.
Meski tetap membuka peluang diplomasi, Iran menegaskan tidak ingin kembali pada pola perundingan sebelumnya tanpa adanya jaminan yang jelas.







