JAKARTA,Metapos.id — Rasulullah ﷺ mencontohkan berbagai adab dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika makan. Salah satu kebiasaan yang diajarkan beliau adalah makan menggunakan tiga jari. Praktik ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari adab makan yang mengandung pelajaran tentang kesederhanaan, tidak berlebihan, dan menghargai nikmat Allah SWT.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ka‘ab bin Malik RA, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ makan menggunakan tiga jari dan menjilati jari-jarinya setelah selesai makan.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَأْكُلُ بِثَلَاثِ أَصَابِعَ، فَإِذَا فَرَغَ لَعِقَهَا
Artinya, “Rasulullah ﷺ makan dengan tiga jari. Setelah selesai, beliau menjilati jari-jarinya.” (HR. Muslim No. 2032).
Tiga jari yang dimaksud adalah ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah. Para ulama menjelaskan bahwa menggunakan tiga jari ketika makan termasuk adab yang dianjurkan dalam Islam, khususnya untuk makanan yang memungkinkan diambil dengan cara tersebut.
Mengajarkan Kesederhanaan dan Tidak Berlebihan
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makan menggunakan tiga jari merupakan adab yang dianjurkan. Penggunaan jari keempat dan kelima dapat dilakukan apabila terdapat kebutuhan, misalnya karena karakteristik makanan yang sulit diambil hanya dengan tiga jari.
Penjelasan serupa disampaikan oleh para ulama lainnya. Penggunaan tiga jari dipandang sebagai salah satu bentuk adab makan yang menunjukkan kesederhanaan dan sikap tidak berlebihan dalam mengambil makanan.
Namun, sunnah ini tidak berarti setiap jenis makanan harus dimakan menggunakan tiga jari. Cara makan dapat disesuaikan dengan jenis makanan dan kebutuhan. Makanan berkuah atau makanan yang sulit diambil dengan tangan, misalnya, dapat dikonsumsi menggunakan alat makan yang sesuai.
Dengan demikian, mengikuti sunnah juga perlu disertai pemahaman terhadap konteks dan tujuan dari adab yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Menjaga Diri dari Sikap Berlebihan
Selain mengajarkan cara mengambil makanan, Islam juga memberikan perhatian terhadap jumlah makanan yang dikonsumsi. Rasulullah ﷺ mengingatkan umatnya agar tidak berlebihan dalam memenuhi kebutuhan perut.
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ
Artinya, “Tidaklah anak Adam mengisi wadah yang lebih buruk daripada perutnya.”
Hadis tersebut dilanjutkan dengan anjuran agar manusia mencukupkan makanan sesuai kebutuhannya. Apabila harus makan lebih banyak, hendaknya tetap memperhatikan keseimbangan dengan memberi ruang bagi minuman dan pernapasan.
Pesan ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan dalam memenuhi kebutuhan tubuh. Makan bukan hanya untuk menghilangkan rasa lapar, tetapi juga perlu dilakukan dengan memperhatikan batas kebutuhan dan menghindari sikap berlebihan.
Menjilati Jari Setelah Makan, Bagian dari Sunnah
Adab makan yang dicontohkan Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada penggunaan tiga jari. Beliau juga mengajarkan agar sisa makanan yang menempel pada jari dibersihkan dengan cara menjilatinya.
Dalam hadis riwayat Jabir RA yang tercantum dalam Shahih Muslim, Rasulullah ﷺ memerintahkan agar seseorang menjilati jari-jarinya dan membersihkan piring setelah makan. Beliau menjelaskan bahwa seseorang tidak mengetahui pada bagian makanan yang mana keberkahan berada.
Ajaran ini menunjukkan pentingnya menghargai makanan dan tidak menyia-nyiakan nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Pelaksanaannya tentu tetap memperhatikan kebersihan dan kepantasan, terutama ketika makan bersama orang lain. Adab tersebut tidak dimaksudkan untuk mengabaikan kebersihan, melainkan untuk menumbuhkan sikap menghargai makanan.
Menghidupkan Sunnah dalam Kehidupan Sehari-hari
Adab makan yang dicontohkan Rasulullah ﷺ memberikan pelajaran bahwa sunnah tidak hanya berkaitan dengan ibadah ritual, tetapi juga mencakup kebiasaan sehari-hari.
Makan menggunakan tiga jari, mengambil makanan secukupnya, tidak berlebihan, serta menghargai setiap bagian makanan merupakan contoh sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.
Melalui adab tersebut, umat Islam diajak membiasakan hidup sederhana, mengendalikan keinginan, dan mensyukuri nikmat Allah SWT.
Menghidupkan sunnah bukan sekadar meniru tindakan Rasulullah ﷺ secara lahiriah, melainkan juga memahami tuntunan beliau dan menerapkan nilai-nilai kebaikan yang terkandung di dalamnya.
Referensi:
- Shahih Muslim, hadis tentang Rasulullah ﷺ makan dengan tiga jari, No. 2032.
- Imam an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, pembahasan adab makan.
- Abu al-‘Abbas al-Qurthubi, Al-Mufhim, 5/298.
- Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, pembahasan adab makan.
- Ibn al-Qayyim, Zad al-Ma‘ad, pembahasan petunjuk Nabi ﷺ dalam makan.
- Sunan at-Tirmidzi, No. 2380, dan Sunan Ibnu Majah, No. 3349, tentang larangan berlebihan dalam memenuhi perut.







