Metapos.id, Jakarta – Bangun tidur merupakan nikmat yang sering kali luput dari rasa syukur. Sebagian orang langsung memeriksa telepon genggam atau memikirkan pekerjaan ketika membuka mata, padahal Rasulullah ﷺ telah mengajarkan sejumlah sunnah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengawali hari dengan mengingat Allah SWT.
Sunnah bangun tidur bukan hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga mengajarkan rasa syukur, kebersihan, dan kesiapan menjalani aktivitas. Beberapa amalan berikut memiliki landasan dalam hadis sahih dan dapat dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
- Membaca doa bangun tidur
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ketika bangun tidur sebagai bentuk syukur atas nikmat kehidupan yang kembali diberikan oleh Allah SWT. Doa tersebut diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan berbunyi:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya kami dibangkitkan.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 6312, menurut penomoran yang umum digunakan).
Doa ini mengingatkan bahwa tidur dan bangun merupakan bagian dari tanda kekuasaan Allah SWT. Kesempatan menjalani hari yang baru menjadi nikmat yang patut disyukuri, sekaligus pengingat bahwa seluruh manusia kelak akan kembali kepada-Nya.
- Mengusap wajah untuk menghilangkan kantuk
Dalam riwayat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengenai salat malam Rasulullah ﷺ, disebutkan bahwa beliau bangun tidur, duduk, kemudian mengusap wajahnya dengan tangan untuk menghilangkan kantuk.
Riwayat tersebut terdapat dalam Sahih Muslim no. 763, menurut penomoran yang umum digunakan. Kisah ini memperlihatkan salah satu kebiasaan Rasulullah ﷺ ketika bangun tidur, khususnya dalam rangka mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah malam.
- Membersihkan hidung setelah bangun tidur
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثًا، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيْشُومِهِ
Artinya, “Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, hendaklah ia mengeluarkan air dari hidungnya tiga kali, karena setan bermalam di bagian dalam hidungnya.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 329, menurut penomoran yang umum digunakan).
Hadis tersebut menjelaskan tuntunan membersihkan hidung setelah bangun tidur sebagai bagian dari adab bersuci. Dalam praktiknya, membersihkan hidung dapat dilakukan secara wajar dan hati-hati, tanpa memaksakan diri.
- Membasuh kedua tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا
Artinya, “Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, janganlah ia memasukkan tangannya ke dalam bejana hingga ia membasuhnya tiga kali.”
(HR. Sahih Muslim no. 278, menurut penomoran yang umum digunakan).
Tuntunan ini mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan tangan sebelum digunakan untuk mengambil air dari bejana. Rasulullah ﷺ memberikan perhatian terhadap kebersihan dalam bersuci, sehingga umat Islam dianjurkan memperhatikan adab tersebut ketika menggunakan air yang disimpan dalam wadah.
Menghidupkan Sunnah dari Awal Hari
Empat amalan tersebut mengingatkan umat Islam bahwa kebiasaan sederhana pun dapat bernilai ibadah apabila dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. Membaca doa, mengusap wajah, membersihkan hidung, dan membasuh tangan merupakan contoh amalan yang membantu mengawali hari dengan rasa syukur sekaligus perhatian terhadap kebersihan.
Membiasakan sunnah bangun tidur juga dapat menjadi langkah awal untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Setelah bangun, seorang Muslim dapat melanjutkan pagi dengan bersuci, menunaikan salat apabila telah masuk waktunya, serta menjalankan tanggung jawab sehari-hari.
Karena itu, mengawali hari tidak harus langsung dengan memeriksa telepon genggam atau memikirkan kesibukan. Meluangkan waktu untuk mengingat Allah SWT dan membiasakan amalan yang dicontohkan Rasulullah ﷺ dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan adalah karunia yang patut disyukuri.
Referensi: Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, sebagaimana disebutkan pada masing-masing hadis.






