Metapos.id, Jakarta — Amanda Andono (50), warga Pondok Pinang, Jakarta Selatan, memutuskan membawa persoalan penggunaan petasan saat acara Maulid Nabi ke ranah hukum.
Amanda sebelumnya bersama dua warga lainnya mengikuti mediasi yang mempertemukan mereka dengan pihak penyelenggara acara. Pertemuan tersebut berlangsung di kantor kelurahan dan melibatkan pihak kepolisian pada Minggu (4/10/2026).
Dalam mediasi itu, penyelenggara menyampaikan permintaan maaf kepada Amanda. Namun, Amanda menilai permintaan maaf tersebut belum menunjukkan ketulusan sehingga ia memilih tidak menyelesaikan persoalan melalui jalur damai.
“Mereka ya mereka cuma bilang ‘Ya maaf, kami salah, mungkin nanti kami enggak akan pasang kembang api lagi. Kembang api dialokasikan ke yang lain yang lebih berguna, terus kami minta maaf karena perlakuan,’ cuma kayak gitu aja dan permintaan maafnya itu saya melihat tidak tulus,” tutur Amanda, dikutip dari berbagai sumber, Selasa (6/10/2026).
Amanda bersama dua warga lainnya kemudian berencana melaporkan kejadian tersebut kepada kepolisian. Ketiganya disebut akan membuat laporan secara terpisah.
Amanda berencana mendatangi Polres Metro Jakarta Selatan untuk membuat laporan pada Senin malam.
“Oh, enggak. Kami enggak terima (maafnya). Kami bertiga mau lapor polisi. Saya sore atau enggak malam ini,” kata dia.
Sebelumnya, Amanda juga telah mendatangi Polsek Kebayoran Lama untuk menyampaikan laporan. Namun, ia mengatakan tidak terdapat unit khusus Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di tingkat polsek.
Karena itu, Amanda memilih melanjutkan laporan ke tingkat Polres Metro Jakarta Selatan yang memiliki unit PPA.
Anak Kejang Setelah Mendengar Ledakan Petasan
Amanda mendatangi lokasi acara Maulid Nabi setelah suara kembang api terdengar berulang kali dari arah lokasi acara. Menurut dia, ledakan tersebut bahkan terdengar hingga ke rumahnya.
Ia mengatakan suara ledakan membuat anaknya yang berusia 12 tahun mengalami kejang. Anak Amanda merupakan penyandang disabilitas dan disebut memiliki kondisi saraf yang sensitif terhadap suara keras.
“Itu sampai bikin anak saya kaget dan dia sampai kejang. Saya tunggu, semenit, dua menit, tiga menit, lima menit, 10 menit, itu enggak berhenti-henti. Suaranya itu enggak kayak petasan biasa,” kata dia.







