Metapos.id, Jakarta — Pertengkaran antara kakak dan adik kerap menjadi bagian dari dinamika kehidupan di rumah. Perselisihan bisa dipicu berbagai hal, seperti berebut mainan, saling mengejek, atau berbeda keinginan.
Saat melihat anak berselisih, orang tua biasanya langsung berusaha menghentikan pertengkaran. Ada pula yang spontan menentukan pihak yang dianggap bersalah. Padahal, cara orang tua menghadapi konflik dapat ikut membentuk kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah.
Untuk perselisihan yang masih berupa adu pendapat ringan, orang tua tidak harus selalu langsung ikut campur. Namun, tindakan segera diperlukan jika pertengkaran mulai melibatkan kata-kata kasar, ancaman, penghinaan, atau kekerasan.
Orang tua dapat berperan sebagai penengah yang membantu anak memahami masalah dan menemukan penyelesaian. Dengan begitu, anak tidak hanya diarahkan untuk berhenti bertengkar, tetapi juga belajar menghadapi konflik.
Segera Hentikan Jika Mulai Terjadi Kekerasan
Ketika anak mulai saling memukul, menendang, atau mendorong, orang tua perlu segera memisahkan mereka. Lakukan dengan suara dan sikap yang tenang agar keadaan tidak semakin tegang.
Anak perlu diberi pemahaman bahwa tindakan menyakiti saudara tidak dapat digunakan sebagai cara menyelesaikan masalah. Setelah emosi mereda, orang tua dapat mengajak keduanya membicarakan penyebab perselisihan.
Mengenali tanda-tanda konflik sebelum berkembang menjadi kekerasan juga penting. Orang tua dapat turun tangan lebih awal ketika melihat pertengkaran mulai sulit dikendalikan.
Jangan Terburu-buru Menentukan Siapa yang Salah
Dalam beberapa keluarga, anak yang lebih tua kerap diminta mengalah. Sementara itu, anak yang lebih kecil bisa mendapatkan pembelaan karena dianggap belum memahami situasi.
Pola seperti ini dapat membuat salah satu anak merasa diperlakukan tidak adil. Karena itu, orang tua sebaiknya memberi kesempatan kepada kakak dan adik untuk menjelaskan kejadian dari sudut pandang masing-masing.
Usia yang berbeda juga tidak berarti anak yang lebih tua harus selalu menjadi pihak yang mengalah.
Berikan Kesempatan untuk Menyelesaikan Masalah
Tidak setiap perselisihan membutuhkan campur tangan langsung. Jika situasi masih aman, anak dapat diberi kesempatan untuk mencari jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi.
Orang tua dapat mengarahkan anak menggunakan komunikasi yang baik. Mereka bisa belajar menyampaikan keinginan tanpa berteriak, mengancam, atau saling menyalahkan.
Namun, anak yang masih kecil biasanya belum memiliki kemampuan cukup untuk menyelesaikan konflik secara mandiri. Dalam kondisi tersebut, orang tua dapat membantu menjadi mediator sambil tetap memberi ruang bagi anak untuk belajar.
Dengarkan Penjelasan Kakak dan Adik
Setelah suasana kembali tenang, orang tua sebaiknya mendengarkan cerita kedua anak secara bergantian. Jangan terburu-buru memerintahkan mereka untuk meminta maaf sebelum memahami persoalan yang terjadi.
Mendengarkan bukan berarti membenarkan tindakan anak. Rasa marah dan kecewa merupakan emosi yang dapat muncul, tetapi anak tetap perlu memahami bahwa menyakiti orang lain bukan cara yang tepat untuk melampiaskannya.
Dengan mendengar kedua sisi, orang tua juga dapat membantu anak memahami bahwa saudaranya memiliki perasaan dan pandangan yang berbeda.
Bantu Menemukan Jalan Keluar
Setelah kedua anak menyampaikan ceritanya, orang tua dapat membantu mereka membuat kesepakatan yang dirasakan adil.
Sebagai contoh, jika mereka berebut mainan, orang tua dapat membuat aturan mengenai giliran bermain. Pilihan lainnya adalah mengajak keduanya melakukan kegiatan yang bisa dinikmati bersama.
Proses tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi anak untuk berbagi, berkompromi, dan menyelesaikan masalah tanpa menggunakan kekerasan.
Hindari Membandingkan Anak
Persaingan antarsaudara terkadang muncul karena anak merasa harus berebut perhatian orang tua. Kondisi tersebut perlu diperhatikan agar tidak berkembang menjadi konflik yang berulang.
Orang tua dapat menyediakan waktu secara khusus bersama masing-masing anak. Perhatian yang diberikan secara seimbang dapat membantu mengurangi perasaan harus bersaing dengan saudara.
Pertengkaran ringan antara kakak dan adik tidak selalu perlu dibesar-besarkan. Namun, orang tua harus segera bertindak jika perselisihan berubah menjadi kekerasan fisik atau verbal.
Ketika anak mulai memukul, menendang, mendorong dengan keras, mengancam, atau menggunakan benda untuk melukai saudaranya, keduanya perlu segera dipisahkan.
Setelah kondisi aman, orang tua dapat mengajak anak mengevaluasi kejadian tersebut. Anak perlu dibantu memahami dampak perilakunya dan mencari cara yang lebih baik untuk menghadapi konflik berikutnya.
Dengan cara tersebut, orang tua tidak sekadar menghentikan pertengkaran. Anak juga memperoleh kesempatan untuk belajar mengelola emosi, berkomunikasi, dan menyelesaikan perbedaan secara lebih sehat.







