Saturday, September 26, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

Sejarah Khawarij: Asal-usul, Pemahaman, dan Penyimpangannya

Budi Mashuri by Budi Mashuri
26 September 2026
in Mozaik
Sejarah Khawarij: Asal-usul, Pemahaman, dan Penyimpangannya

Metapos.id, Jakarta – Khawarij (الخوارج) merupakan salah satu kelompok paling awal yang muncul dalam sejarah perpecahan politik dan teologi umat Islam. Kemunculannya tidak berawal dari seorang pendiri yang secara formal membentuk organisasi, melainkan berkembang dari konflik politik pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه hingga kemudian membentuk pemahaman keagamaan tersendiri.

  1. Awal Mula Kemunculan

Sejarah Khawarij tidak dapat dipisahkan dari Perang Shiffin yang berlangsung pada 37 H/657 M antara pasukan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه. Ketika peperangan berlangsung, kedua pihak kemudian menerima penyelesaian melalui tahkim atau arbitrase.

BACA JUGA

Keutamaan Hari Jumat dan Sunnah yang Dianjurkan

Doa Memohon Keteguhan Iman, Rezeki Berkah dan Keluarga Saleh

Sebagian orang dari pasukan Ali رضي الله عنه menolak keputusan tahkim tersebut. Mereka kemudian keluar dari barisan Ali dan berkumpul di daerah Harura’, sebelum sebagian besar bergerak menuju Nahrawan, wilayah di sebelah timur Sungai Tigris.

Dari tindakan “keluar” inilah mereka kemudian dikenal sebagai Khawarij, yang berasal dari kata Arab kharaja yang berarti keluar. Slogan yang terkenal dari kelompok tersebut adalah لَا حُكْمَ إِلَّا لِلَّهِ atau “Tidak ada hukum kecuali milik Allah.”

Kalimat tersebut pada dasarnya merupakan kalimat yang benar. Persoalannya terletak pada cara kelompok tersebut memahami dan menerapkannya, karena slogan itu digunakan untuk menolak tahkim dan menilai Ali رضي الله عنه telah melakukan kesalahan besar karena menerima arbitrase manusia.

  1. Peristiwa Nahrawan

Perselisihan antara Ali رضي الله عنه dan kelompok yang kemudian dikenal sebagai Khawarij semakin tajam setelah mereka menolak kembali kepada jamaah kaum Muslimin. Kelompok tersebut berkumpul di Nahrawan dan akhirnya terjadi Perang Nahrawan pada 38 H/658 M.

Ali رضي الله عنه berhasil mengalahkan kelompok Khawarij dalam pertempuran tersebut. Namun, kekalahan militer itu tidak menghilangkan pemikiran mereka karena sebagian pengikutnya melarikan diri dan kemudian membentuk kelompok-kelompok baru.

Dari perkembangan tersebut muncul berbagai cabang Khawarij, di antaranya Azariqah, Najdiyyah, Shufriyah, dan kelompok lainnya. Sejarah mereka kemudian berlangsung selama beberapa abad dengan berbagai pemberontakan terhadap pemerintahan yang mereka anggap tidak sesuai dengan pemahaman agama mereka.

  1. Siapa Pendiri Khawarij?

Berbeda dengan organisasi modern yang memiliki struktur pendirian dan tokoh pendiri yang jelas, Khawarij tidak mempunyai seorang pendiri tunggal. Kelompok ini lahir melalui proses perkembangan gerakan setelah peristiwa tahkim dan pemisahan sebagian pendukung Ali رضي الله عنه.

Salah satu tokoh penting pada fase awal perkembangan Khawarij adalah Abdullah bin Wahb ar-Rasibi. Ia menjadi salah satu pemimpin kelompok Khawarij setelah mereka memisahkan diri dari Ali رضي الله عنه.

Karena itu, secara historis lebih tepat mengatakan bahwa Khawarij lahir dari suatu gerakan yang berkembang secara bertahap, bukan didirikan oleh satu orang pada satu tanggal tertentu. Abdullah bin Wahb ar-Rasibi merupakan tokoh penting dalam fase awal, tetapi bukan pendiri tunggal dalam pengertian organisasi modern.

  1. Di Mana Khawarij Berkembang?

Pusat awal Khawarij berada di wilayah Irak, terutama di sekitar Kufah, Basrah, Harura’, dan Nahrawan. Dari kawasan tersebut, gerakan Khawarij kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Timur dunia Islam.

Perkembangan mereka tercatat hingga wilayah Khuzestan, Persia bagian selatan, Kerman, Sistan, dan Khurasan. Sumber-sumber sejarah juga mencatat aktivitas kelompok Khawarij di wilayah Jazirah atau Mesopotamia bagian utara dan sejumlah kawasan Persia.

Salah satu cabang yang dikenal sangat keras, Azariqah, berkembang di wilayah Ahwaz, Fars, dan Kerman. Dengan demikian, apabila ditanyakan di mana Khawarij pertama kali berkembang, jawabannya adalah wilayah Irak, khususnya sekitar Kufah dan Basrah, sebelum kemudian menyebar ke berbagai wilayah.

  1. Apa Pemahaman Utama Khawarij?

Khawarij tidak seluruhnya mempunyai pemahaman yang sama karena kelompok tersebut kemudian terpecah menjadi banyak cabang. Meskipun demikian, terdapat sejumlah karakter pemikiran yang sering dikaitkan dengan Khawarij awal dan menjadi pembeda penting dalam sejarah teologi Islam.

A. Mudah Melakukan Takfir

Salah satu karakter yang paling dikenal adalah pandangan keras terhadap pelaku dosa besar. Sebagian besar kelompok Khawarij menganggap seorang Muslim yang melakukan dosa besar telah keluar dari Islam atau menjadi kafir.

Pandangan tersebut menjadi salah satu persoalan teologis utama yang membedakan Khawarij dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Persoalan iman, amal, dan status pelaku dosa besar kemudian menjadi bagian dari perdebatan besar dalam perkembangan ilmu kalam Islam.

B. Menganggap Penguasa yang Melakukan Dosa Harus Dilawan

Dalam pemikiran sebagian kelompok Khawarij, seorang pemimpin yang dianggap telah melakukan kekufuran atau penyimpangan dapat kehilangan legitimasi. Bahkan, sebagian kelompok mereka menganggap pemberontakan terhadap penguasa menjadi kewajiban apabila penguasa tersebut dinilai telah menyimpang dari hukum Allah.

Pandangan tersebut kemudian berkaitan dengan berbagai pemberontakan Khawarij terhadap pemerintahan Umayyah maupun Abbasiyah. Namun, tingkat kekerasan dan pandangan politik di antara cabang-cabang Khawarij tidak selalu sama.

C. Menempatkan Amal sebagai Ukuran Penting dalam Status Iman

Khawarij memberikan penekanan sangat kuat terhadap hubungan antara iman dan amal. Ketika seseorang melakukan dosa besar, sebagian kelompok Khawarij dapat menganggap dosa tersebut menyebabkan seseorang keluar dari keimanan.

Persoalan tersebut berkaitan dengan pembahasan mengenai hakikat iman dan hubungan antara amal dengan iman. Perbedaan pandangan mengenai persoalan ini kemudian menjadi salah satu tema penting dalam perkembangan pemikiran teologi Islam.

D. Tidak Mengutamakan Keturunan Tertentu untuk Menjadi Pemimpin

Dalam teori politik sebagian kelompok Khawarij, kepemimpinan tidak harus berasal dari Quraisy atau keluarga tertentu. Orang yang dianggap paling saleh dan memenuhi syarat dapat menjadi pemimpin.

Dalam hal ini terdapat sisi egalitarian dalam pemikiran Khawarij, karena kepemimpinan tidak semata-mata ditentukan oleh keturunan. Namun, karakter tersebut tidak menghapus perbedaan mereka dengan kelompok lain dalam persoalan akidah, politik, dan sikap terhadap masyarakat Muslim.

  1. Mengapa Pemahaman Khawarij Dinilai Menyimpang dari Sunnah?

Dari perspektif Ahlus Sunnah wal Jama’ah, persoalan Khawarij bukan karena mereka tidak menggunakan Al-Qur’an. Salah satu pelajaran penting dari sejarah mereka justru menunjukkan bahwa seseorang dapat menggunakan ayat Al-Qur’an, tetapi keliru dalam memahami, menggabungkan, dan menerapkannya.

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan mengenai kelompok yang memiliki ciri-ciri seperti Khawarij. Dalam hadis sahih, Nabi ﷺ menyebut adanya kelompok yang “membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka “keluar dari agama sebagaimana anak panah menembus sasarannya.” Hadis-hadis mengenai Khawarij tersebut diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

  1. Kesalahan Utama: Berlebihan dalam Memahami Nash

Salah satu ciri yang dapat dipahami dari sejarah Khawarij adalah ghuluw atau sikap berlebih-lebihan. Mereka mengambil sebagian dalil mengenai hukum Allah, dosa, dan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, kemudian menerapkannya secara ekstrem tanpa memperhatikan keseluruhan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah.

Dengan kata lain, persoalannya bukan terletak pada ayat yang mereka baca, tetapi pada cara memahami dan menerapkan dalil tersebut. Hal ini menjadi salah satu pelajaran penting dalam memahami agama secara menyeluruh agar suatu dalil tidak dipisahkan dari dalil lain yang menjelaskan batasan dan penerapannya.

  1. Kesalahan dalam Masalah Takfir

Dalam manhaj Ahlus Sunnah, tidak setiap dosa menyebabkan seseorang menjadi kafir. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.”

(QS. An-Nisa’: 48)

Ayat tersebut menjadi salah satu dasar penting bahwa dosa selain syirik tidak otomatis menjadikan seseorang kafir. Karena itu, pelaku dosa besar tidak otomatis keluar dari Islam selama tidak terdapat perkara yang benar-benar membatalkan keislamannya.

Persoalan takfir juga bukan perkara ringan yang dapat dilakukan berdasarkan penilaian pribadi. Inilah salah satu perbedaan mendasar antara pendekatan Khawarij dengan Ahlus Sunnah dalam menilai status seorang Muslim yang melakukan dosa.

  1. Kesalahan dalam Menyikapi Penguasa

Khawarij juga dikenal dengan sikap keras terhadap penguasa yang dianggap menyimpang. Dalam manhaj Ahlus Sunnah, persoalan nasihat kepada penguasa, amar ma’ruf nahi munkar, pemberontakan, serta menjaga stabilitas umat memiliki pembahasan yang luas dan rinci dalam hadis maupun kitab-kitab akidah.

Karena itu, tidak setiap kesalahan seorang pemimpin otomatis menjadi alasan untuk melakukan pemberontakan. Para ulama Ahlus Sunnah menekankan pentingnya mempertimbangkan dalil, maslahat, mafsadat, kemampuan, serta akibat yang mungkin ditimbulkan dari suatu tindakan.

  1. Apakah Semua Khawarij Sama?

Tidak semua kelompok yang secara historis disebut Khawarij memiliki pemahaman yang persis sama. Seiring perjalanan sejarah, Khawarij terpecah menjadi berbagai kelompok dengan tingkat ekstremitas dan pemikiran yang berbeda.

Di antara kelompok yang terkenal adalah Azariqah, Najdiyyah, dan Shufriyah. Selain itu, terdapat Ibadiyah yang secara historis memiliki hubungan dengan lingkungan Khawarij awal, tetapi perkembangan pemikiran dan tradisi komunitasnya kemudian berbeda dari kelompok Khawarij ekstrem seperti Azariqah.

Ibadiyah modern tidak identik begitu saja dengan Khawarij militan awal. Tradisi Ibadi berkembang menjadi komunitas tersendiri dan saat ini terutama terdapat di Oman, serta memiliki komunitas di sejumlah wilayah Afrika Utara.

Karena itu, menyebut seluruh penganut Ibadi modern sebagai Khawarij dalam pengertian yang sama dengan Khawarij militan awal merupakan penyederhanaan sejarah. Pembahasan mengenai hubungan historis antara Ibadiyah dan Khawarij perlu mempertimbangkan perkembangan pemikiran serta perubahan komunitas tersebut sepanjang sejarah.

  1. Pelajaran Penting dari Sejarah Khawarij

Sejarah Khawarij memberikan sejumlah pelajaran penting bagi umat Islam. Pelajaran tersebut tidak hanya berkaitan dengan sejarah politik, tetapi juga cara memahami Al-Qur’an, Sunnah, iman, dosa, dan perbedaan pendapat dalam agama.

Pertama, semangat agama harus disertai ilmu. Semangat membela agama saja tidak cukup karena pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah harus dilakukan dengan ilmu serta mengikuti penjelasan para ulama.

Kedua, jangan mengambil satu dalil dan meninggalkan dalil lainnya. Islam perlu dipahami secara menyeluruh sehingga ayat tentang hukuman tidak dipahami tanpa ayat tentang rahmat, ayat tentang jihad tidak dipahami tanpa Sunnah yang menjelaskan aturan dan batasannya, serta ayat tentang hukum dipahami berdasarkan penjelasan Rasulullah ﷺ.

Ketiga, jangan mudah mengkafirkan. Takfir merupakan perkara yang sangat berat sehingga tidak boleh dilakukan secara sembarangan, sementara kecenderungan menjadikan kesalahan atau dosa tertentu sebagai alasan untuk mengeluarkan seseorang dari Islam merupakan salah satu persoalan yang sangat menonjol dalam sejarah Khawarij.

Keempat, banyaknya ibadah tidak otomatis menjamin kebenaran suatu manhaj. Dalam hadis-hadis mengenai Khawarij, Rasulullah ﷺ menggambarkan mereka sebagai kelompok yang memiliki banyak ibadah dan bacaan Al-Qur’an, tetapi pemahamannya menyimpang.

Karena itu, banyaknya ibadah perlu disertai ittiba’ kepada Sunnah dan pemahaman agama yang benar. Semangat beragama harus berjalan bersama ilmu, kehati-hatian dalam memahami dalil, serta kemampuan melihat keseluruhan petunjuk syariat.

Kesimpulan

Khawarij muncul sekitar 37 H/657 M dalam konteks konflik antara Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه pada Perang Shiffin. Mereka awalnya merupakan bagian dari pendukung Ali رضي الله عنه yang kemudian memisahkan diri karena menolak tahkim.

Pusat awal mereka berada di Irak, khususnya sekitar Kufah, Basrah, Harura’, dan Nahrawan, sebelum kemudian menyebar ke berbagai wilayah seperti Khuzestan, Persia, Kerman, Sistan, dan Khurasan. Setelah Perang Nahrawan, pemikiran Khawarij tetap berkembang melalui berbagai cabang dengan karakter dan tingkat ekstremitas yang berbeda.

Ciri pemikiran yang paling sering dikaitkan dengan Khawarij adalah sikap berlebihan dalam persoalan dosa dan iman, kecenderungan melakukan takfir terhadap pelaku dosa besar, serta pembenaran terhadap perlawanan kepada pemimpin yang dianggap menyimpang. Dari perspektif Ahlus Sunnah wal Jama’ah, penyimpangan tersebut terutama berkaitan dengan ghuluw, kesalahan dalam memahami nash, dan sikap berlebihan dalam memberikan vonis terhadap kaum Muslimin.

Namun, kajian tentang Khawarij tetap perlu dilakukan secara adil dan ilmiah. Tidak semua kelompok yang secara historis disebut Khawarij mempunyai pemikiran yang sama, dan tidak semua kelompok modern yang memiliki kemiripan tertentu dapat langsung diberi label Khawarij.

Pelajaran terbesar dari sejarah Khawarij adalah bahwa kebenaran tidak cukup hanya dengan semangat beragama. Pemahaman agama membutuhkan ilmu, pemahaman yang benar terhadap Al-Qur’an dan Sunnah, sikap hati-hati dalam memberikan vonis, serta kemampuan menghindari sikap berlebihan dalam memahami dan menerapkan ajaran agama.

Rujukan Utama

• Shahih al-Bukhari, Kitab al-Manaqib dan Kitab al-I’tisham.
• Shahih Muslim, Kitab az-Zakah dan pembahasan terkait Khawarij.
• Abu al-Hasan al-Asy’ari, Maqālāt al-Islāmiyyīn.
• Al-Baghdadi, Al-Farq bayna al-Firaq.
• Ibn Hazm, Al-Fasl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal.
• Clifford Edmund Bosworth, “Kharijites in Persia,” Encyclopaedia Iranica.
• Hannah-Lena Hagemann, The Kharijites in Early Islamic Historical Tradition: Heroes and Villains.

 

Tags: KhawarijMetaposNahrawanPerang Shiffinsejarah Khawarij
Previous Post

Kenapa Depresi Bisa Bikin Mudah Lupa?

Next Post

Antusias Warga Tinggi, LRT Kelapa Gading-Manggarai Layani 100 Ribu Penumpang

Related Posts

Hari Jumat memiliki banyak keutamaan dalam Islam. Simak keutamaan Jumat serta sunnah yang dianjurkan, mulai dari mandi hingga memperbanyak doa.
Mozaik

Keutamaan Hari Jumat dan Sunnah yang Dianjurkan

25 September 2026
Nisfu Syaban 1447 H Dimulai Senin Malam, 2 Februari 2026, Ini Jadwal Ibadah yang Dianjurkan
Mozaik

Doa Memohon Keteguhan Iman, Rezeki Berkah dan Keluarga Saleh

23 September 2026
Tiga Amal yang Pahalanya Tetap Mengalir Setelah Kematian
Mozaik

Tiga Amal yang Pahalanya Tetap Mengalir Setelah Kematian

22 September 2026
Simak 4 bacaan niat bayar fidyah sesuai kondisi, lengkap dengan teks Arab, latin, arti, golongan yang wajib membayar, serta ketentuannya.
Mozaik

4 Niat Fidyah Beserta Latin dan Artinya

17 September 2026
Ilustrasi jaringan wifi
Mozaik

Hukum Menggunakan WiFi Orang Lain dalam Islam

5 September 2026
Next Post
Antusias Warga Tinggi, LRT Kelapa Gading-Manggarai Layani 100 Ribu Penumpang

Antusias Warga Tinggi, LRT Kelapa Gading-Manggarai Layani 100 Ribu Penumpang

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini