Metapos.id, Jakarta – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bekerja sama dengan Google untuk mempermudah akses dan pengelolaan koleksi statistik global melalui sistem baru bernama UN System Data Commons.
Platform tersebut dirancang untuk mengintegrasikan data dalam skala besar agar dapat digunakan secara lebih optimal oleh berbagai sistem kecerdasan buatan (AI).
UN System Data Commons dibangun di atas platform open-source Data Commons milik Google dan menggantikan portal sebelumnya, UNData.
Melalui sistem ini, pengguna dapat mencari statistik dari berbagai badan PBB menggunakan kueri dalam bahasa alami.
Platform tersebut juga mendukung Model Context Protocol (MCP), standar yang memungkinkan agen AI terhubung langsung dengan sumber data eksternal.
Pengembangan ini dilakukan di tengah persoalan akurasi AI ketika menyajikan data publik. Tolok ukur UNICEF terhadap enam large language model (LLM) menunjukkan rata-rata akurasi jawaban mengenai indikator pembangunan global hanya mencapai 21,2%.
Kepala Ahli Statistik UNICEF João Pedro Azevedo mengatakan sekitar tiga dari lima respons AI tidak menghasilkan angka yang dapat digunakan akibat adanya ambiguitas dalam jawaban.
Pengujian ulang terhadap pertanyaan yang sama dua hari kemudian juga menunjukkan AI hanya memberikan angka konsisten dalam sekitar separuh pengujian.
Di sisi lain, penggunaan AI untuk mencari data terus meningkat. UNICEF mencatat rujukan kunjungan dari ChatGPT ke situs data mereka naik 67% secara tahunan per September, dengan asisten AI diperkirakan menyumbang sekitar 10% dari total kunjungan.
Saat ini, sebanyak 26 entitas PBB telah berkomitmen menggunakan Data Commons. PBB menargetkan 80% dari seluruh kumpulan data statistiknya dapat masuk ke platform tersebut pada 2027.
“Kami jauh lebih maju dalam hal skala, cakupan, dan fleksibilitas, terhubung untuk pertama kalinya di begitu banyak lembaga di seluruh sistem PBB,” kata Shantanu Mukherjee, dikutip dari berbagai sumber, Jumat (18/9/2026).
“Dan (kami) memanfaatkan momen ini untuk juga mempersiapkan data kami agar siap untuk AI,” tuturnya.
Pengembangan infrastruktur inti Data Commons mendapat dukungan dana sebesar US$2 juta dari Google.org.
Pemimpin tim Data Commons Google, Prem Ramaswami, menjelaskan sistem tersebut dihosting di server PBB dan dirancang agar nantinya dapat dikelola secara independen oleh organisasi tersebut.
“Kami telah menerapkan pendekatan ‘melatih pelatih’ selama peluncuran program ini, dan kami telah melihat tim sistem PBB beradaptasi dengan cepat,” kata Ramaswami.
Sistem tersebut juga melacak sumber asli setiap statistik sehingga asal-usul data dapat ditelusuri. Dalam demonstrasi, AI yang terhubung dengan data PBB melalui MCP mampu menggabungkan sejumlah indikator untuk membuat grafik, dasbor, serta analisis tertulis tanpa pengolahan manual.
Meski demikian, penggunaan data tepercaya tidak otomatis membuat seluruh kesimpulan AI menjadi akurat. Ramaswami menekankan perlunya pemeriksaan manusia sebelum hasil AI digunakan untuk publikasi.
“Karena model dapat salah menafsirkan nuansa, manusia harus selalu meninjau hasilnya sebelum mengutip atau mempublikasikannya,” kata Ramaswami.







