Metapos.id, Jakarta — Pemerintah daerah yang wilayahnya terkena dampak erupsi Gunung Anak Krakatau diperbolehkan menerapkan sistem bekerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN).
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan keputusan penerapan WFH dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah. Kebijakan tersebut tetap harus mempertimbangkan keberlangsungan pelayanan kepada masyarakat.
Tito menegaskan sejumlah layanan publik yang bersifat penting tidak boleh terganggu. Pelayanan kesehatan, pemadam kebakaran, hingga sektor kelistrikan harus tetap beroperasi selama kondisi darurat berlangsung.
“Kalau pemerintah daerah, kabupaten/kota melihat bahwa aspek kesehatan dan keamanan di daerah itu bagi masyarakat, termasuk ASN, bisa terganggu, maka WFH bisa dilakukan sebagian, misalnya 50 persen,” kata Tito dalam jumpa pers daring, (7/9/26).
Untuk perangkat pemerintahan yang aktivitasnya tidak berkaitan langsung dengan pelayanan masyarakat, porsi WFH dapat diberlakukan lebih besar, yakni hingga 75 persen.
Tito menyebut dirinya telah melakukan komunikasi dengan sejumlah kepala daerah yang wilayahnya berpotensi terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Wilayah tersebut meliputi Banten, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan.
Pemerintah, lanjut Tito, terus mengikuti perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Pemantauan dilakukan sebagai langkah antisipasi apabila kondisi di lapangan berubah dan berpotensi mengganggu kesehatan maupun keselamatan masyarakat.
“Kita melakukan komunikasi terus-menerus, dengan sekali lagi tujuannya untuk mengetahui seberapa berbahaya atau rawan terhadap kesehatan masyarakat atau keamanan masyarakat di berbagai sektor, termasuk administrasi pemerintahan,” ujarnya.
Gunung Anak Krakatau dilaporkan mengalami erupsi sejak Jumat (4/9) malam hingga Minggu (6/9). Aktivitas vulkanik tersebut menyebabkan abu erupsi menyebar ke sejumlah wilayah di sekitarnya.
Beberapa daerah yang terdampak antara lain Lampung, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Sebaran abu vulkanik tersebut juga terpantau meluas ke sejumlah wilayah perairan.
Berdasarkan informasi BMKG yang mengacu pada data PVMBG, Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, serta pengolahan citra Himawari-9, pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terbagi ke dalam dua arah utama.
Sebaran pertama bergerak dari timur laut menuju selatan. Abu vulkanik pada jalur ini meliputi sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat serta kawasan perairan di sekitarnya.
Adapun sebaran lainnya bergerak menuju barat daya hingga barat laut. Abu terpantau mencakup sejumlah wilayah Banten, Lampung, dan Bengkulu, termasuk perairan bagian selatan Selat Sunda serta kawasan Samudra Hindia di sebelah barat ketiga wilayah tersebut.







