Metapos.id, Jakarta – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia tidak hanya diisi dengan kegiatan keagamaan, tetapi juga berbagai tradisi kuliner yang memiliki makna budaya di setiap daerah.
Di Aceh, salah satu hidangan yang lekat dengan perayaan tersebut adalah Kuah Beulangong yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat.
Kuliner khas Aceh Besar ini tidak sekadar dikenal karena cita rasanya, tetapi juga memiliki sejarah dan nilai kebersamaan yang kuat.
Berikut sejumlah fakta mengenai Kuah Beulangong yang kerap disajikan dalam momentum Maulid Nabi.
1. Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda
Kuah Beulangong merupakan kuliner khas Aceh Besar yang secara resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia sejak 2018.
Selain Maulid Nabi Muhammad SAW, hidangan tersebut juga biasa disajikan dalam acara kenduri, syukuran, resepsi, dan berbagai kegiatan masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar, Bahrul Jamil, menyebut pengakuan tersebut menjadi dorongan untuk terus melestarikan Kuah Beulangong agar semakin dikenal secara luas.
2. Dimasak dalam Kuali Besar
Nama Beulangong berasal dari kata belanga yang berarti kuali besar, sesuai dengan cara memasaknya dalam jumlah banyak.
Dalam satu kali memasak, Kuah Beulangong dapat dibuat hingga sekitar 300 porsi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam sebuah acara.
Bahan utamanya berupa daging sapi, kambing, atau kerbau yang dimasak bersama rempah khas Aceh.
Nangka muda, pisang muda, hingga bagian dalam batang pisang juga dapat ditambahkan sebagai bahan pelengkap.
Perpaduan daging, rempah, dan bahan tersebut menghasilkan cita rasa khas sekaligus menggambarkan tradisi masyarakat Aceh dalam menyiapkan makanan secara bersama-sama.
3. Tradisinya Disebut Berasal dari Abad ke-19
Tradisi memasak Kuah Beulangong disebut telah berlangsung sejak abad ke-19 atau bahkan lebih lama.
Kemunculannya dikaitkan dengan pedagang Gujarat, India, yang datang ke Aceh untuk berdagang sekaligus menyebarkan Islam.
Kuah Beulangong kemudian berkembang menjadi bagian dari berbagai tradisi masyarakat Aceh, termasuk Khanduri Blang yang merupakan kenduri sebagai bentuk syukuran menjelang musim tanam padi.
Dalam tradisi tersebut, masyarakat berkumpul dan berdoa agar mendapatkan hasil panen yang melimpah.
4. Dimasak Kaum Pria dan Mengandung Makna Kebersamaan
Secara tradisional, proses memasak Kuah Beulangong dilakukan oleh kaum pria secara bergantian selama sekitar dua jam hingga hidangan matang.
Tradisi tersebut mencerminkan nilai gotong royong sekaligus menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarwarga.
Bahrul Jamil menilai Kuah Beulangong bukan sekadar makanan tradisional, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Aceh yang perlu diwariskan di tengah perkembangan zaman.
Karena nilai budaya dan kebersamaan tersebut, Kuah Beulangong hingga kini tetap menjadi salah satu hidangan yang melekat dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Aceh.





