Metapos.id, Jakarta – Masa depan Presiden FIFA, Gianni Infantino, kini menjadi perhatian setelah rencana pembentukan perusahaan baru yang akan mengelola hak komersial Piala Dunia dan berbagai kompetisi FIFA batal diwujudkan. Kegagalan tersebut memicu kritik dari sejumlah asosiasi sepak bola, khususnya di kawasan Eropa.
Walaupun ancaman boikot UEFA terhadap turnamen FIFA sudah mereda, hubungan antara FIFA dan sejumlah federasi anggotanya dinilai masih belum sepenuhnya membaik. UEFA menyebut upaya memulihkan kepercayaan menjadi prioritas utama setelah polemik yang terjadi.
Di tengah situasi tersebut, FIFA akan menghadapi agenda penting dalam beberapa bulan ke depan, termasuk penyelenggaraan Piala Dunia U-20 Putri dan Piala Dunia U-17 Putri. Dua turnamen itu dipandang sebagai ujian awal bagi organisasi sepak bola dunia tersebut setelah kontroversi terkait rencana komersialisasi.
Gelombang penolakan terhadap kepemimpinan Infantino juga terus berkembang. Finlandia menjadi asosiasi pertama yang secara terbuka mencabut dukungannya, kemudian diikuti Wales dan Inggris. Sementara itu, Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) diperkirakan akan mengambil sikap serupa setelah sejumlah pejabatnya melontarkan kritik terhadap kebijakan Infantino.
Pemilihan Presiden FIFA berikutnya dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027 di Rabat, Maroko. Infantino masih berencana maju sebagai calon untuk masa jabatan terakhirnya. Namun, besarnya tekanan dari berbagai pihak membuka peluang munculnya pesaing baru atau bahkan upaya menghentikan pencalonannya sebelum proses pemungutan suara dimulai.
Sampai saat ini belum ada figur yang benar-benar menguat sebagai calon pengganti Infantino. Nama-nama seperti Nasser Al-Khelaifi, Aleksander Čeferin, Victor Montagliani, Lise Klaveness, dan Salman bin Ibrahim Al Khalifa memang sempat dikaitkan dengan bursa calon Presiden FIFA. Meski begitu, beberapa di antaranya telah menyatakan tidak berminat ikut dalam kontestasi tersebut.







