Metapos.id, Jakarta – Kemampuan Amerika Serikat dalam melindungi Kuwait dari ancaman serangan Iran kembali menjadi sorotan setelah serangan rudal dan drone dilaporkan menewaskan enam personel militer AS.
Laporan The Wall Street Journal yang terbit pada 29 Juli 2026 menyebut meningkatnya ketegangan dengan Iran telah mengguncang rasa aman Kuwait. Selama ini, negara tersebut mengandalkan kehadiran pasukan Amerika Serikat sebagai penjamin keamanan kawasan.
Situasi tersebut mendorong Washington mengevaluasi kembali jumlah pasukan serta peran militernya di kawasan Teluk.
Dalam beberapa serangan, Iran meluncurkan rudal dan drone yang menyasar berbagai fasilitas penting di Kuwait, termasuk pembangkit listrik, instalasi desalinasi air, bandara, pelabuhan, hingga jalur ekspor minyak di sekitar Selat Hormuz.
Meski sistem pertahanan udara Amerika Serikat berhasil mencegat sebagian besar serangan, beberapa rudal dan drone tetap mampu menembus pertahanan dan menghantam pangkalan militer AS.
Salah satu serangan yang terjadi pada Maret 2026 dilaporkan menewaskan enam personel militer Amerika Serikat.
Presiden Arab Gulf States Institute, Douglas Silliman, mengatakan kehadiran militer AS masih dianggap penting oleh Kuwait. Namun, keberadaan pasukan tersebut juga dinilai membawa risiko karena menjadi sasaran dalam eskalasi konflik regional.
Di tengah meningkatnya ancaman keamanan, Kuwait juga diketahui telah menandatangani pakta pertahanan baru dengan Pakistan.
Meski begitu, hingga kini belum ada indikasi Kuwait akan mengurangi ketergantungannya kepada Amerika Serikat. Pemerintah Kuwait justru disebut terus mendorong Washington memperkuat sistem pertahanan udara untuk menghadapi ancaman rudal dan drone yang semakin berkembang.







