Metapos.id, Jakarta – Kasus ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) terus meningkat dan kini mencapai 363 kasus terkonfirmasi dengan 62 korban jiwa. Meski demikian, perkembangan positif juga dilaporkan dari Uganda yang berhasil mencatat empat pasien sembuh dari infeksi tersebut.
Perkembangan terbaru wabah ini dibahas dalam konferensi pers daring yang digelar WHO Regional Afrika pada 4 Juni 2026. Pertemuan tersebut melibatkan pejabat WHO serta perwakilan pemerintah dari DRC, Uganda, dan Sudan Selatan.
Wabah ebola yang dipicu strain Bundibugyo pertama kali diumumkan di DRC dan Uganda pada pertengahan Mei 2026. Situasi tersebut kemudian ditetapkan WHO sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.
Direktur Regional WHO untuk Afrika, Mohamed Janabi, menyebut penanganan wabah mulai menunjukkan kemajuan di lapangan. Selain empat pasien sembuh di Uganda, enam pasien di DRC juga telah dinyatakan pulih dan diperbolehkan pulang.
Uganda sejauh ini mencatat 15 kasus ebola terkonfirmasi yang sebagian besar merupakan kasus impor dari negara tetangga. Pemerintah setempat menerapkan karantina ketat, pemantauan kontak erat, serta mempercepat proses pengujian laboratorium hingga hanya memerlukan sekitar empat jam.
Sementara itu, DRC memperkuat sistem deteksi dini untuk memastikan diagnosis dilakukan lebih cepat dan akurat. Pemerintah juga mendesentralisasikan respons wabah hingga tingkat zona kesehatan terkecil guna mempercepat penanganan di daerah terdampak.
WHO menilai kerja sama lintas negara menjadi faktor penting dalam mengendalikan penyebaran virus. Kasus pertama di Uganda diketahui berasal dari pasien asal DRC yang menyeberangi perbatasan untuk mendapatkan layanan kesehatan terdekat.
Selain menghadapi penyebaran virus, otoritas kesehatan juga harus melawan maraknya disinformasi di masyarakat. WHO turut mengingatkan bahwa penutupan perbatasan secara total bukan solusi efektif dan justru berpotensi menghambat distribusi bantuan medis serta pengawasan kesehatan resmi.







