Metapos.id, Jakarta – Keinginan untuk berhenti merokok cukup tinggi di kalangan perokok Indonesia. Namun, tidak sedikit yang akhirnya kembali merokok sebelum berhasil lepas sepenuhnya dari ketergantungan nikotin.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menunjukkan jumlah perokok aktif masih mencapai sekitar 70 juta orang. Di sisi lain, penggunaan rokok elektronik terus bertambah dan banyak ditemukan pada kelompok usia remaja.
Direktur Utama RSUP Persahabatan sekaligus penasihat PDPI, Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, menyebut kecanduan nikotin menjadi hambatan utama dalam proses berhenti merokok. Kondisi tersebut sering disertai gejala putus nikotin yang membuat banyak orang kesulitan bertahan.
Menurut Agus, sebagian besar perokok sebenarnya memiliki niat untuk berhenti. Meski demikian, banyak di antaranya tidak mampu melewati masa-masa awal tanpa rokok.
Ia menjelaskan, proses berhenti merokok berlangsung secara bertahap. Tahap awal dikenal sebagai fase pra-kontemplasi, yakni ketika seseorang belum memiliki keinginan untuk menghentikan kebiasaan merokok.
Berikutnya adalah fase kontemplasi. Pada tahap ini, perokok mulai memahami dampak buruk rokok dan mulai mempertimbangkan untuk berhenti.
Setelah itu, mereka memasuki fase persiapan. Dalam tahap ini, perokok mulai menyusun strategi dan menentukan waktu yang tepat untuk berhenti.
Sementara itu, fase aksi menjadi periode yang paling menantang. Fase ini umumnya berlangsung selama satu hingga dua bulan pertama setelah seseorang menghentikan konsumsi rokok.
Selama periode tersebut, tubuh berusaha menyesuaikan diri tanpa nikotin. Akibatnya, berbagai keluhan dapat muncul, mulai dari rasa gelisah, pusing, sulit fokus, hingga perubahan emosi.
Karena itu, tenaga kesehatan biasanya memberikan pendampingan secara berkala. Selain konseling, pasien juga dapat memperoleh terapi perilaku maupun terapi pengganti nikotin sesuai kebutuhan.
Setelah berhasil melewati fase awal, pasien memasuki tahap pemeliharaan atau maintenance. Fokus utamanya adalah menjaga konsistensi agar tidak kembali merokok.
Meski sudah melewati masa kritis, peluang kambuh tetap ada. Oleh sebab itu, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar memegang peran penting dalam menjaga keberhasilan program berhenti merokok.
Agus menegaskan bahwa proses berhenti merokok membutuhkan tekad yang kuat dan dukungan berkelanjutan. Dengan pendampingan yang tepat, peluang untuk hidup bebas rokok dapat semakin besar.







