Metapos.id, Jakarta – PBSI menargetkan hasil maksimal bagi tim putra Indonesia dengan membidik partai final pada Piala Thomas dan Uber 2026.
Ketua Umum PBSI, Fadil Imran, menyebut peluang tersebut masih terbuka meski secara ranking Indonesia berada di bawah negara kuat seperti China. Ia menegaskan hasil pertandingan tidak hanya ditentukan oleh peringkat, tetapi juga performa di lapangan.
Kejuaraan beregu tersebut akan digelar pada 24 April hingga 3 Mei 2026 di Horsens. Kontingen Indonesia dijadwalkan berangkat lebih awal guna mematangkan persiapan serta beradaptasi dengan kondisi setempat.
Untuk tim putri, PBSI memasang target yang lebih realistis. Tim Uber Indonesia diharapkan mampu melewati fase grup sebagai langkah awal sebelum menatap babak selanjutnya. Persaingan di grup diprediksi cukup berat karena diisi tim-tim kuat seperti China dan Chinese Taipei.
Kapten tim putra, Fajar Alfian, diharapkan mampu memimpin rekan-rekannya tampil percaya diri dan solid. PBSI menilai kejuaraan beregu membutuhkan kekuatan mental dan kerja sama tim yang lebih kuat dibanding turnamen individu.
Hasil undian menempatkan tim Thomas Indonesia di Grup D bersama Prancis, Thailand, dan Aljazair. Sementara tim Uber Indonesia tergabung di Grup C bersama Chinese Taipei, Kanada, dan Australia.
Dengan komposisi tersebut, Indonesia memiliki peluang untuk melangkah ke fase berikutnya jika mampu tampil konsisten sejak pertandingan awal.
Di sisi persiapan, tim pelatih telah menyusun program khusus yang difokuskan pada peningkatan kondisi fisik, ketahanan mental, serta adaptasi terhadap suhu dan karakter lapangan di Denmark.
PBSI juga menekankan pentingnya kekompakan tim dalam setiap pertandingan, mengingat format beregu sangat bergantung pada kontribusi setiap pemain. Strategi rotasi pemain akan diterapkan sesuai kebutuhan dan kekuatan lawan.
Untuk sektor putra, Indonesia diproyeksikan bersaing dengan negara unggulan seperti China, Jepang, dan Denmark yang memiliki kualitas merata di semua sektor. Sementara di sektor putri, peluang lolos dari fase grup tetap terbuka selama tim mampu menjaga stabilitas permainan.
Pencapaian di turnamen ini tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga eksistensi Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama dalam dunia bulu tangkis internasional.







