Monday, July 27, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

Prediksi Jiang Xueqin: AS Tak Mudah Menang Jika Konflik dengan Iran

Taufik Hidayat by Taufik Hidayat
10 March 2026
in Internasional
Prediksi Jiang Xueqin: AS Tak Mudah Menang Jika Konflik dengan Iran

Metapos.id, Jakarta – Nama Jiang Xueqin, sejarawan sekaligus analis geopolitik yang bermukim di Beijing, kembali menjadi perbincangan di media sosial. Sejumlah pandangannya tentang perkembangan politik global dinilai mulai relevan dengan situasi internasional yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir.

Salah satu analisis yang kembali disorot adalah prediksinya mengenai potensi kesulitan yang bisa dihadapi Amerika Serikat apabila terlibat konflik militer langsung dengan Iran. Pandangan tersebut sebenarnya telah disampaikan Jiang sejak Mei 2024.

BACA JUGA

Agent Kim Reactivated Dapat Season 2, So Ji Sub Apresiasi Kru dengan Emas

Christopher Nolan Terapkan Larangan Ini Selama Syuting The Odyssey

Namun pada saat itu, sebagian pihak menilai analisis tersebut terlalu spekulatif dan kurang realistis.

Dalam perkembangan terbaru, beberapa prediksi Jiang dinilai mulai mendekati kenyataan. Salah satunya adalah kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Kondisi tersebut membuat analisis Jiang kembali mendapat perhatian dari publik maupun para pengamat geopolitik.

Geografi Iran Dinilai Jadi Keunggulan Strategis
Dalam sebuah video yang diunggah melalui kanal YouTube pribadinya, Jiang menjelaskan bahwa kekuatan Iran tidak hanya berasal dari kemampuan militernya, tetapi juga dari kondisi geografis negara tersebut. Iran memiliki wilayah yang didominasi kawasan pegunungan dengan kontur yang curam, sehingga dinilai sulit ditembus oleh pasukan penyerang.

Menurutnya, medan seperti itu dapat mengurangi efektivitas teknologi militer modern, termasuk pengawasan satelit dan serangan udara presisi. Di wilayah pegunungan tersebut, Iran disebut memiliki peluang untuk menempatkan berbagai fasilitas militer tersembunyi, seperti pangkalan drone, bunker pertahanan, hingga sistem peluncur rudal.

Jika invasi darat benar-benar terjadi, Jiang memperkirakan pasukan Amerika tidak akan menghadapi pertempuran terbuka di wilayah dataran. Sebaliknya, konflik berpotensi berubah menjadi perang berkepanjangan di wilayah pegunungan yang kompleks dan sulit dikendalikan.

Tantangan Logistik dan Dukungan Kelompok Regional
Selain faktor geografis, Jiang juga menyoroti persoalan logistik yang kemungkinan dihadapi militer Amerika Serikat. Jarak yang jauh antara wilayah Amerika dan kawasan Timur Tengah dinilai dapat membuat jalur pasokan militer menjadi panjang serta rentan terhadap gangguan.

Ia juga menyinggung keberadaan sejumlah kelompok di kawasan yang memiliki hubungan dekat dengan Iran, seperti Houthi movement, Hezbollah, dan Hamas.

Kelompok-kelompok tersebut dinilai berpotensi memperluas konflik sekaligus memperpanjang durasinya.

Menurut Jiang, strategi Iran tidak selalu harus berorientasi pada kemenangan cepat di medan perang. Dengan membuat konflik berlangsung lebih lama, tekanan ekonomi dan politik di dalam negeri Amerika Serikat bisa meningkat seiring waktu.

Potensi Dampak pada Keseimbangan Global
Jiang juga menilai bahwa konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran dapat membawa dampak luas terhadap tatanan geopolitik dunia. Apabila skenario kekalahan Amerika benar-benar terjadi, hal itu berpotensi menjadi titik perubahan dalam dominasi kekuatan Barat di panggung internasional.

Karena itu, analisis Jiang kini kembali diperhatikan oleh berbagai kalangan, terutama para pengamat hubungan internasional. Pandangan tersebut dianggap sebagai pengingat bahwa konflik di kawasan Timur Tengah dapat memicu perubahan besar dalam keseimbangan kekuatan global.

Tags: Amerika Serikatanalis geopolitikBeijinggeografisIranJiang XueqinMetapos.idrudalsejarawan
Previous Post

Eks Pelatih Panjat Tebing Diduga Lecehkan Atlet Putri di Asrama hingga Saat Bertanding di Luar Negeri

Next Post

Lucky Avianto Naik Jadi Jenderal Bintang Tiga, Jabat Pangkogabwilhan III

Related Posts

Agent Kim Reactivated Dapat Season 2, So Ji Sub Apresiasi Kru dengan Emas
Internasional

Agent Kim Reactivated Dapat Season 2, So Ji Sub Apresiasi Kru dengan Emas

27 July 2026
Christopher Nolan Terapkan Larangan Ini Selama Syuting The Odyssey
Internasional

Christopher Nolan Terapkan Larangan Ini Selama Syuting The Odyssey

27 July 2026
Trump Ultimatum Xi Jinping dan Putin soal Dugaan Bantuan untuk Iran
Internasional

Trump Ultimatum Xi Jinping dan Putin soal Dugaan Bantuan untuk Iran

27 July 2026
Ngakak! Haaland Geli Sendiri Lihat Meme Dirinya di Media Sosial
Internasional

Ngakak! Haaland Geli Sendiri Lihat Meme Dirinya di Media Sosial

27 July 2026
Chris Hemsworth Angkat Senapan Lagi, Extraction 3 Masuk Tahap Syuting
Internasional

Chris Hemsworth Angkat Senapan Lagi, Extraction 3 Masuk Tahap Syuting

26 July 2026
Tiket Konser Kanye West di Jakarta Resmi Dijual, Ini Rincian Harganya
Internasional

Tiket Konser Kanye West di Jakarta Resmi Dijual, Ini Rincian Harganya

26 July 2026
Next Post
Lucky Avianto Naik Jadi Jenderal Bintang Tiga, Jabat Pangkogabwilhan III

Lucky Avianto Naik Jadi Jenderal Bintang Tiga, Jabat Pangkogabwilhan III

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini