Metapos.id, Jakarta – Pejabat pemerintah Amerika Serikat mengakui bahwa sistem pertahanan udara mereka belum mampu menghentikan seluruh drone serang milik Iran.
Pengakuan tersebut disampaikan dalam pertemuan tertutup dengan anggota Kongres di Capitol Hill pada Selasa (3/3/2026). Dalam rapat itu, pejabat militer menjelaskan bahwa drone Iran menjadi tantangan besar bagi sistem pertahanan udara Amerika.
Menurut sejumlah sumber yang mengikuti pertemuan tersebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bersama Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine menyampaikan bahwa tidak semua drone yang diluncurkan Iran dapat dicegat.
Drone jenis Shahed yang digunakan Iran dinilai sulit ditangani karena cara terbangnya berbeda dengan rudal balistik. Drone tersebut biasanya terbang rendah dan bergerak lebih lambat, sehingga lebih sulit dideteksi maupun dihancurkan oleh sistem pertahanan udara.
Beberapa sumber yang hadir dalam rapat itu menyebutkan bahwa ancaman dari drone Iran ternyata lebih besar dari perkiraan sebelumnya.
Meski demikian, pejabat militer Amerika berusaha menenangkan kekhawatiran para anggota parlemen. Mereka menegaskan bahwa negara-negara mitra AS di kawasan Teluk Persia telah meningkatkan jumlah sistem pencegat untuk menghadapi kemungkinan serangan drone.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran sendiri semakin meningkat setelah serangan gabungan AS dan Israel menargetkan sejumlah lokasi di Teheran serta kota-kota lain di Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa sebagian besar fasilitas militer Iran telah berhasil dilumpuhkan. Serangan tersebut juga dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei bersama beberapa pejabat penting lainnya.
Pemerintah AS menyebut operasi militer itu bertujuan menghancurkan kemampuan rudal Iran, melemahkan kekuatan angkatan lautnya, menghentikan program nuklir Iran, serta membatasi dukungan Teheran terhadap kelompok militan di kawasan Timur Tengah














