Metapos.id, Jakarta – Sosok inspiratif datang dari Kota Malang, yakni Bripka Seladi, anggota polisi lalu lintas yang dikenal luas karena keteguhannya menjaga kejujuran. Selama kurang lebih 16 tahun bertugas di pelayanan SIM Polres Malang Kota, ia konsisten menolak segala bentuk suap maupun pemberian dari masyarakat.
Jauh sebelum kisahnya ramai diperbincangkan publik, Seladi telah menjalani pekerjaan sampingan sebagai pemulung sejak tahun 2000. Seusai berdinas, ia mengumpulkan kardus, botol plastik, dan barang bekas lainnya untuk dijual kembali. Hasilnya digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga dan membiayai pendidikan anak-anaknya.
Keputusan tersebut tak jarang membuatnya menjadi bahan cibiran. Ia pernah dihina dan ditertawakan karena memilih pekerjaan yang dianggap rendah oleh sebagian orang. Namun bagi Seladi, pekerjaan halal sekecil apa pun nilainya jauh lebih terhormat dibanding menerima uang tidak resmi atau “salam tempel”.
Ia bahkan dikenal menolak bentuk terima kasih sekadar ajakan minum kopi dari pemohon SIM yang merasa puas dengan pelayanannya. Prinsipnya jelas: menjaga integritas lebih penting daripada keuntungan sesaat.
Baginya, menjadi pemulung adalah pilihan yang jujur dan benar, ketimbang mencederai amanah sebagai aparat penegak hukum. Konsistensi dan dedikasinya tersebut akhirnya mendapat apresiasi pada 2016, ketika ia menerima penghargaan dari Kapolri sebagai figur teladan dalam upaya transformasi Polri.
Kisah Bripka Seladi menjadi bukti bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh jabatan, melainkan oleh kejujuran, kerja keras, dan keteguhan dalam memegang prinsip hidup.













