Metapos.id, Jakarta – Kelompok perlawanan Palestina Hamas secara resmi mengonfirmasi kematian juru bicara militernya, Abu Ubaida, bersama sejumlah komandan senior lainnya dalam perang melawan Israel yang telah berlangsung selama dua tahun di Jalur Gaza.
Kabar tersebut disampaikan melalui pidato rekaman yang ditayangkan media Arab. Dalam pernyataan itu, juru bicara baru Hamas menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Abu Ubaida, yang memiliki nama asli Hudhayfah Abdullah al-Kahlout, sosok senior yang juga menjabat sebagai kepala kantor media Brigade al-Qassam.
“Hari ini kami kehilangan Abu Ubaida, atau Huthaifa Samir al-Kahlout, seorang pemimpin besar yang selama hampir dua dekade menghadapi musuh dengan keteguhan,” ujar juru bicara tersebut dalam pidatonya.
Selain Abu Ubaida, Hamas juga mengonfirmasi tewasnya kepala staf militernya, Mohammed Sinwar. Ia disebut memimpin Brigade al-Qassam dalam periode yang sangat berat setelah menggantikan Mohammed Deif, komandan militer lama Hamas.
Kelompok tersebut juga menyatakan bahwa Komandan Brigade Rafah, Mohammed Shabana, turut gugur. Ia disebut tewas bersama Pemimpin Politik Hamas, Yahya Sinwar.
Nama lain yang dikonfirmasi meninggal dunia adalah Hakam al-Issa, yang disebut memegang berbagai posisi strategis, termasuk dalam pengawasan pelatihan dan akademi militer. Hamas juga menyebut Raed Saad, kepala divisi manufaktur dan mantan pimpinan operasi, termasuk di antara korban tewas.
Abu Ubaida dikenal sebagai juru bicara Brigade al-Qassam selama hampir 20 tahun. Ia menjadi figur sentral dalam penyampaian laporan perang, klaim keberhasilan militer, serta pernyataan keras terhadap Israel melalui siaran televisi dan media resmi Hamas.
Dalam setiap penampilan publiknya, Abu Ubaida selalu menutupi wajah dengan keffiyeh merah, sehingga dijuluki sebagai “tokoh bertopeng” di dunia Arab. Informasi mengenai kehidupan pribadinya sangat terbatas dan hanya diketahui oleh kalangan internal tertentu.
Popularitasnya meningkat tajam setelah serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023 yang memicu perang berkepanjangan di Gaza. Sosoknya kemudian menjadi simbol perlawanan dan kerap ditiru dalam aksi solidaritas, serta diabadikan dalam lagu-lagu di berbagai negara Arab.
Dalam wawancara pada 2005, Abu Ubaida pernah mengungkap bahwa keluarganya terusir akibat peristiwa Nakba 1948 sebelum menetap di Gaza. Saat itu, ia mengaku berusia awal 20-an, yang mengindikasikan ia lahir pada pertengahan 1980-an.
Sumber internal Hamas menyebut hanya segelintir orang yang mengetahui identitas asli Abu Ubaida sebelum kematiannya. Nama samaran yang digunakannya diambil dari Abu Ubaidah ibn al-Jarrah, salah satu sahabat Nabi Muhammad yang dikenal sebagai panglima perang.
Kemunculan publik pertamanya sebagai juru bicara Brigade al-Qassam terjadi pada 2004, saat konferensi pers di tengah operasi darat Israel di Gaza utara. Sejak itu, ia menjadi satu-satunya juru bicara militer Hamas.
Pada 2006, Abu Ubaida mengumumkan penangkapan tentara Israel Gilad Shalit, serta menjadi pihak pertama yang mengumumkan penangkapan tentara Israel Shaul Aron dalam perang Gaza 2014.
Israel disebut telah beberapa kali berupaya membunuh Abu Ubaida dalam dua dekade terakhir, termasuk dua percobaan sejak Oktober 2023. Pada April 2024, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadapnya dengan tuduhan memimpin operasi “perang informasi” Hamas.














